Konsep dan moral dasar permukiman multi etnik di tepian Sungai Palu Kotamadya Palu
YUSNANDAR, Ir. Sudaryono, M.Eng.,Ph.D
2005 | Tesis | Magister Perencanaan Kota dan DaerahKeberadaan permukiman bantaran sungai Palu tidak terlepas dari laju pertumbuhan penduduk perkotaan, baik karena faktor pertumbuhan penduduk kota itu sendiri maupun karena faktor migrasi. Sehingga fenomena yang terjadi adalah timbulnya permukiman yang heterogen dengan keberagaman budaya yang dipengaruhi oleh etnik. Permukiman multi etnik merupakan konsepsi hunian penduduk yang membentuk sebuah komunitas sebagai tempat tinggal dan tempat kerja sekaligus tempat berkomunikasi diantara penghuninya. Permukiman penduduk bantaran sungai Palu yang berada di kelurahan Ujuna merupakan kawasan kumuh yang padat dan sangat dekat dengan pusat-pusat perekonomian. Pusat-pusat perekonomian yang berada dekat dengan permukiman bantaran sungai Palu sangat mempengaruhi pola hidup masyarakat, yaitu mengakibatkan adanya aktivitas untuk memaksimalkan nilai tambah ekonomi dalam rangka pemanfaatannya. Hubungan sosial yang terjalin antar penduduk berupa kerukunan, kegotongroyongan dan tolong-menolong. Ditengah situasi konflik yang terjadi di Sulawesi Tengah akhir-akhir ini, seperti yang terjadi di Poso dengan nuansa sara dan di Palu yang juga sering terjadi di daerah pasar Manonda yang bernuansa konflik etnis (kaili dan bugis). Maka masyarakat yang berada di kelurahan Ujuna dengan budaya yang beragam menyikapi hal tersebut dengan suatu kesadaran yang tinggi akan nilai-nilai persatuan dan persaudaraan. Hal ini menunjukkan bahwa Pluralisme dan heterogenitas penghuni sekitar bantaran sungai Palu menimbulkan interaksi yang bersifat asosiatif, yaitu integrasi yang mengarah pada harmonisasi. Penelitian ini mengaju pada kaidah penelitian kualitatif. Analisis data dilakukan secara deskriptif induktif melalui pendekatan fenomenologis, sehingga tujuan untuk mendeskripsikan konsep bermukim dan modal dasar masyarakat tepian sungai Palu menjadi tercapai. Hal ini senada dengan pemahaman bahwa fenomena sosial dan spasial yang ada dilapangan dapat bermakna ganda serta dapat membentuk pola keruangan. Penekanan diberikan pada aktivitas dan sistem nilai masyarakat. Hasil penelitian telah dapat mendeskripsikan beberapa konsep bermukim dan modal dasar yang ada di permukiman bantaran sungai Palu. Proses akhir dari fenomena sosial dan spasial menunjukkan adanya tiga konsep bermukim meliputi : (1) Permukiman spontan, (2) Permukiman seadanya, (3) Permukiman Informal, dan empat konsep modal dasar masyarakat yang meliputi : (1) Modal kerukunan, (2) Kebiasaan yang turun temurun, (3) Adaptasi terhadap perubahan, (4) Harapan untuk menjadi lebih baik. Dalam penelitian ini ditemukan juga pola keruangan yaitu pola dengan bentuk tidak beraturan, dimana permukiman tumbuh dan berkembang mengikuti arah jalan dan sungai. Faktor-faktor pembentuk pola keruangan adalah faktor kondisi lingkungan, ekonomi serta sosial dan budaya.
The existence of Palu Riverbank Settlement closely relates to the growth of urban population that results from both population growth factor and migration factor. The result is heterogenous settlements that have cultural diversity which effected by ethnics. Multi-ethnic settlement is a conception of residence that form a community as a dwelling place, work place and communication place for its inhabitants. The settlement on Palu Riverbank in Ujuna village is a crowded slum area and locates very close to economic centres. Economic centres around this settlement influence the society’s life style: they generate activities to optimise economic added value of space use. The forms of social interaction include togetherness and mutual cooperation. Amid recent conflict situations in Central Sulawesi such as in Poso which is provoked by religious, ethnic, and race issues and in Palu that also happens frequently in Manonda that is ignited by ethnic conflict (between kaili and bugis), people in Ujuna village who live with diverse culture look at these conflicts with a great awareness of brotherhood and unity values. It shows that Pluralism and Heterogeneity hold by people around Palu riverbank produce an associative interaction, which is an interaction that leads to harmony. This research refers to the principles of qualitative research. Data analysis is done in descriptive inductive manners by adopting phenomenological approach in order to achieve the research objective, that is, to describe the concept of settlement and the potency of the society around Palu riverbank. This is in line with understanding that the existing social and spatial phenomena may have multiple meanings and be able to form spatial pattern. The focus is given to the activity and value system of the society. The research results describe several concepts of settlement and potency of the Palu riverbank settlement. The end process of the social and spatial phenomena shows 3 concepts of settlement, which are: (1) spontaneous settlement, (2) simple settlement, (3) informal settlement; and four potencies, which are (1) togetherness, (2) passed on customs, (3) adaptation to changes, (4) hope to be much better. The research identifies its spatial pattern, namely an irregular pattern in which the settlement grows and develops following road and river orientations. The factors that shape this pattern are environmental condition, economic, and social and culture.
Kata Kunci : Permukiman Multi Etnik,Tepian Sungai, settlement concept and potency, riverbank settlement, multi-ethnic.