Laporkan Masalah

Etnoekologi Masyarakat Kampung Kwau Dalam Ekowisata Birdwatching di Provinsi Papua Barat

Herlina Agustina Wambrauw, Prof. Dr. Ir. San Afri Awang, M.Sc. ; Dr. Dwi Laraswati, S.Si.

2026 | Tesis | S2 Ilmu Kehutanan


Penelitian ini mengkaji integrasi etnoekologi Masyarakat Kampung Kwau Papua Barat, dalam menghadapi transformasi mata pencaharian dari aktivitas perburuan subsisten menuju ekowisata Kwau Birdwatching. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan struktur pengetahuan etnoekologi, menganalisis proses transformasi pengetahuan dan adaptasi sosial-ekologis, serta merumuskan strategi keberlanjutan tata kelola ekowisata berbasis komunitas.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus melalui teknik pengodean berjenjang (open, axial, selective coding). Hasil penelitian menunjukkan bahwa etnoekologi Masyarakat Kampung Kwau bertumpu pada tiga pilar utama: cosmos (sakralisasi hutan sebagai ruang spiritual), corpus (penguasaan taksonomi dan perilaku satwa endemik), serta praxis (sistem zonasi Igya Ser Hanjop, penegakan sanksi adat Sasi, dan teknik silvikultur tradisional). Transformasi ke sektor pariwisata mendorong adaptasi sosial melalui pergeseran peran pemuda sebagai pemandu wisata (bird guide) dan pemberdayaan ekonomi perempuan melalui domestikasi flora endemik. Risiko kesenjangan budaya (cultural lag) berhasil dimitigasi melalui penguatan kohesi sosial dan transparansi bagi hasil komunal. Kesimpulannya, keberlanjutan tata kelola di kawasan ini sangat bergantung pada model co-management yang menyelaraskan hukum adat seperti penerapan kuota maksimal 12 wisatawan per hari berdasarkan ambang batas daya dukung kualitatif dengan prinsip pariwisata modern, guna melindungi keanekaragaman hayati Cagar Alam Pegunungan Arfak secara berkeadilan.

 

 


This study examines the ethnoecological integration of the Hatam tribe in Kampung Kwau, West Papua, in navigating the socio-ecological transformation from subsistence hunting to Kwau Birdwatching ecotourism. It aims to explain the structure of ethnoecological knowledge, analyze the transformation of knowledge and socio-ecological adaptations, and formulate sustainable community-based ecotourism governance. Using a qualitative case study approach with multi-level coding, the findings reveal that the Hatam's ethnoecology relies on three pillars: cosmos (forest sacralization), corpus (local taxonomy and animal behavior), and praxis (the Igya Ser Hanjop zonation system, Sasi customary sanctions, and traditional silviculture). The transition to the tourism sector drives social adaptation, shifting youths into tour guides and empowering women economically through the domestication of endemic flora. The potential risk of cultural lag is effectively mitigated via strengthened social cohesion and transparent communal benefit-sharing. In conclusion, sustainable ecotourism in this region depends on collaborative governance (co-management) that harmonizes customary laws such as a strict daily quota of 12 tourists based on qualitative carrying capacity with modern tourism principles to equitably protect the biodiversity of the Arfak Mountains Nature Reserve.

 

Kata Kunci : Adaptasi Sosial-Ekologis, Burung Endemik, Ekowisata Kwau Birdwatching, Etnoekologi, Igya Ser Hanjop.

  1. S2-2026-549907-abstract.pdf  
  2. S2-2026-549907-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-549907-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-549907-title.pdf