Laporkan Masalah

Interferensi Bahasa Jawa ke dalam Bahasa Indonesia pada Pidato Resmi Presiden Republik Indonesia

Yona Tirta Sari, Prof. Dr. Hendrokumoro, M.Hum.

2026 | Tesis | S2 Linguistik

Indonesia merupakan negara dengan tingkat keberagaman bahasa yang sangat tinggi. Kondisi tersebut menempatkan mayoritas masyarakat Indonesia sebagai bilingual, bahkan multilingual. Masyarakat Indonesia setidaknya menguasai bahasa daerah sebagai bahasa ibunya dan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Hal tersebut melatarbelakangi terjadinya kontak bahasa yang berpotensi menimbulkan interferensi bahasa. Interferensi dapat terjadi karena seorang penutur lebih menguasai bahasa pertamanya, sehingga ketika berbicara dengan bahasa kedua atau bahasa lainnya, kaidah bahasa pertama akan masuk dan memengaruhi penggunaan bahasa yang sedang digunakan. Selain itu, situasi tutur juga dapat memengaruhi terjadinya interferensi, terlebih pada situasi yang menuntut penggunaan bahasa Indonesia dengan ragam baku atau formal, seperti pada pidato resmi Presiden Republik Indonesia. Interferensi tidak terjadi begitu saja, terdapat latar belakang budaya, pendidikan, mata pencaharian, usia, dan jenis kelamin yang dapat menjadi faktor terjadinya interferensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis interferensi bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia oleh Presiden Republik Indonesia, mengidentifikasi pidato resmi presiden dengan tingkat intensitas interferensi tertinggi dan terendah, serta mengidentifikasi faktor sosial yang menyebabkan interferensi tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian di berupa kata, frasa, klausa, atau kalimat yang mengandung interferensi bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia yang bersumber dari Presiden Republik Indonesia. Data penelitian ini dikumpulkan dengan teknik simak dan catat, serta dianalisis menggunakan metode Padan teknik Pilah Unsur Penentu. Penelitian ini berhasil menemukan 116 interferensi yang didominasi oleh interferensi fonetis sebanyak 55 data, interferensi gramatikal morfologis sebanyak 53 data, dan interferensi leksikal sebanyak 8 data. Dominasi penyimpangan pada tataran fonetis ditandai secara konsisten oleh pergeseran bunyi akibat pengaruh kuat sistem fonotaktik bahasa Jawa yang terbawa ke dalam ragam bahasa Indonesia formal. Temuan ini menegaskan bahwa pengaruh kuat bahasa Jawa serta latar belakang sosial Presiden Republik Indonesia dapat menjadi faktor terjadinya interferensi bahasa yang sistematis dan berulang, sekalipun dalam ranah resmi kenegaraan yang menuntut pembakuan bahasa yang ketat.


Indonesia is a country with a very high level of language diversity. This situation makes the majority of Indonesians bilingual, or even multilingual. Indonesians generally at least know their regional language as their mother tongue and Indonesian as the national language. This background causes language contact that can potentially lead to language interference. Interference can happen because a speaker is more proficient in their first language, so when speaking in a second language or other languages, the rules of the first language come in and influence the language being used. Also, the speech situation can affect the occurrence of interference, especially in situations that require the use of Indonesian in standard or formal varieties, such as in official speeches by the President of the Republic of Indonesia. Interference doesn’t just happen on its own; there are cultural, educational, occupation, age, and gender can be a factor in the occurrence of interference. This study aims to identify the types of Javanese language interference into Indonesian by the Presidents of the Republic of Indonesia, identify the official presidential speeches with the highest and lowest levels of interference intensity, and identify the social factors that cause this interference. This research is a qualitative descriptive study. The research data consist of words, phrases, clauses, or sentences containing Javanese language interference into Indonesian sourced from the Presidents of the Republic of Indonesia. The research data were collected using observation, and note-taking techniques and analyzed using the Match with Element Sorting method. This study successfully found 116 instances of interference, dominated by phonetical interference with 55 cases, grammatical morphological interference with 53 cases, and lexical interference with 8 cases. The dominance of deviations at the phonetical level is consistently marked. Consistently due to sound shifts caused by the strong influence of the Javanese phonotactic system carried over into formal Indonesian. This finding emphasizes that the strong influence of Javanese, as well as the social background of the President of the Republic of Indonesia, can be factors in systematic and recurring language interference, even in official state contexts that require strict language standardization. 

Kata Kunci : Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, Interferensi, Pidato Resmi Presiden Republik Indonesia, Sosiolinguistik.

  1. S2-2026-537239-abstract.pdf  
  2. S2-2026-537239-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-537239-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-537239-title.pdf