Analisis Kapasitas Komunitas dalam Program Modeling Budidaya Rumput Laut (Studi Kasus Desa Ohoidertawun Kecamatan Kei Kecil Kabupaten Maluku Tenggara)
Wenan Renmaur, Dr. Pradhikna Yunik Nurhayati, S.I.P., M.P.A.
2026 | Tesis | S2 Administrasi Publik
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kapasitas komunitas dalam pengelolaan Program Modeling Budidaya Rumput Laut di Desa Ohoidertawun, Kabupaten Maluku Tenggara. Program yang diinisiasi oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan ini, menerapkan pendekatan bottom-up mandiri, di mana intervensi pemerintah berfokus pada penyediaan prasarana fisik, sedangkan tata kelola operasional diserahkan sepenuhnya kepada komunitas lokal. Meskipun ditopang oleh potensi ekologis pesisir yang proporsional, modal sosial berbasis kearifan lokal (ain ni ain, fanganan, dan maren), serta bantuan prasarana fisik yang memadai, Komunitas Metbal Sorbay sebagai penerima manfaat mengalami penurunan volume panen akibat kendala ekologis serta keterbatasan manajerial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Mengacu pada kerangka empat dimensi kapasitas komunitas menurut Chaskin (2001), hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Rasa kepemilikan komunitas terkonstruksi secara kuat atas dasar ikatan kekerabatan dan legitimasi sosio struktural lokal, namun masih terbatas pada utilitas prasarana fisik dan belum terinternalisasi ke dalam sistem tata kelola organisasi formal; (2) Komitmen kolektif mengalami degradasi secara gradual dari partisipasi aktif awal menjadi komitmen individual yang situasional, di mana anggota mengalihkan alokasi waktu ke sektor ekonomi darat akibat ketidakpastian siklus panen; (3) Kemampuan pemecahan masalah masih bersifat intuitif, tradisional, dan fragmentaris, seperti relokasi parsial ke area dangkal (meti), pemangkasan jaringan terinfeksi bulu kucing, dan efisiensi bahan bakar minyak sebagai langkah yang memitigasi kerugian individual tetapi membatasi pemanfaatan kawasan modeling skala luas secara kolektif; serta (4) Akses terhadap sumber daya belum termobilisasi secara institusional, di mana posisi tawar harga tetap lemah akibat ketiadaan aliansi pasar terintegrasi dan minimnya transfer teknologi mitigasi penyakit dari otoritas teknis maupun akademisi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan intervensi kebijakan publik tidak dapat sekadar bertumpu pada penyediaan prasarana fisik dan modal sosial kultural semata, melainkan membutuhkan kapasitas manajerial internal, pendampingan teknologis yang berkelanjutan, serta mitigasi risiko ekonomi harian guna menjamin efektivitas dan keberlanjutan program secara signifikan.
This study aims to analyze community capacity in managing the Seaweed Farming Modeling Program in Ohoidertawun Village, Southeast Maluku Regency. Initiated by the Ministry of Marine Affairs and Fisheries, this program adopts an independent bottom-up approach, in which government intervention focuses on providing physical infrastructure, while operational governance is fully entrusted to the local community. Despite being supported by proportional coastal ecological potential, social capital rooted in local wisdom (ain ni ain, fanganan, and maren), and adequate physical infrastructure assistance, the Metbal Sorbay Community as the beneficiary experienced a decline in harvest volume due to ecological constraints and managerial limitations. This study employs a qualitative approach with a case study design. Drawing upon Chaskin's (2001) four-dimensional framework of community capacity, the findings indicate that: (1) Sense of community is strongly constructed on the basis of kinship ties and local socio-structural legitimacy, yet it remains limited to physical infrastructure utility and has not been internalized into formal organizational governance systems; (2) Collective commitment underwent gradual degradation from initial active participation to situational individual commitment, wherein members reallocated their time to land-based economic activities due to harvest cycle uncertainty; (3) Problem-solving ability remains intuitive, traditional, and fragmented such as partial relocation to shallow waters (meti), pruning tissues infected by ice-ice disease and thread-like filamentous algae (bulu kucing), and fuel use efficiency actions that mitigate individual losses but restrict the collective optimization of large-scale modeling areas; and (4) Access to resources has not been institutionally mobilized, where price bargaining power remains weak due to the absence of integrated market alliances and minimal transfer of disease mitigation technology from both technical authorities and academics. This study concludes that the success of public policy interventions cannot rely solely on the provision of physical infrastructure and socio-cultural capital, rather, it requires internal managerial capacity, sustainable technological assistance, and daily economic risk mitigation to significantly ensure program effectiveness and sustainability.
Kata Kunci : Kapasitas Komunitas, Program Modeling Budidaya Rumput Laut, Kebijakan Publik