Analisis Dinamis Fondasi Tiang Bor Gedung Pada Tanah Terlikuefaksi Menggunakan Model Konstitutif UBC3D-PLM
Fauzan Helmi Ramadhan, Ir. Rozaqqa Noviandi, S.T., M.Agr., Ph.D., IPM.
2026 | Skripsi | TEKNIK SIPIL
Gempa bumi tahun 2006 berkekuatan 6,3 Mw di Kabupaten Bantul, Yogyakarta akibat aktivitas Sesar Opak memicu likuefaksi dan kerusakan infrastruktur. Sebagai wilayah dengan tingkat seismisitas tinggi, analisis bahaya seismik dan likuefaksi menjadi penting dalam perancangan fondasi tiang bor. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi desain fondasi tiang bor gedung auditorium terhadap pengaruh beban gempa dan likuefaksi tanah berdasarkan analisis dinamis. Tahapan penelitian meliputi penentuan kelas situs dan percepatan puncak tanah (PGA) berdasarkan analisis bahaya seismik probabilistik (PSHA), modifikasi gerak tanah melalui analisis riwayat waktu non linear dengan penskalaan amplitudo, analisis potensi likuefaksi menggunakan metode simplifikasi dan simulasi numeris analisis respons situs, serta evaluasi kapasitas dukung, deformasi, dan faktor aman fondasi. Berdasarkan 10 titik uji penetrasi standar, diperoleh kelas situs tanah sedang dengan PGA sebesar 0,5406 g. Gerak tanah yang digunakan adalah rekaman gempa Northridge-01 (1994) komponen H2 dengan faktor skala 1,562 dan PGA terskalakan sebesar 0,6984 g. Secara umum, lokasi penelitian memiliki tingkat bahaya likuefaksi yang rendah. Pada titik bor BH-08, metode simplifikasi menunjukkan likuefaksi pada kedalaman 10–16 m (SF < 1>Liquefaction Potential Index / LPI) rendah dan tingkat keparahan likuefaksi (Liquefactiaon Severity Indeks / LSI) sangat rendah. Sementara itu, analisis respons situs menunjukkan likuefaksi pada kedalaman 12–16 m (ru max ? 0,95). Model UBC3D-PLM terbukti mampu memodelkan perilaku tanah terlikuefaksi secara lebih realistis dan akurat. Hasil analisis fondasi menunjukkan penurunan kapasitas dukung aksial sebesar 51,10%, dari 6546,74 kN menjadi 4861,21 kN. Pembebanan dinamis meningkatkan gaya aksial, momen lentur, dan gaya geser masing-masing sebesar 3,74%, 177,24%, dan 288,70%. Penurunan dan perpindahan lateral fondasi pada kondisi statis mencapai 1,81 mm dan 0,48 mm, sedangkan pada kondisi dinamis mencapai 10,13 mm dan 10,03 mm. Faktor aman fondasi sebesar 6,31 pada kondisi normal dan 3,16 pada kondisi terlikuefaksi. Evaluasi desain fondasi tiang bor gedung berdasarkan faktor aman menunjukkan bahwa desain fondasi bersifat overdesign.
The 2006 Mw 6.3 earthquake in Bantul Regency, Yogyakarta, triggered by the Opak Fault, induced soil liquefaction and caused infrastructure damage. As a region with high seismicity, seismic hazard and liquefaction analyses are essential in the design of bored pile foundations. This study aims to evaluate the design of the auditorium building bored pile foundation under the effects of earthquake loading and soil liquefaction based on dynamic analysis. The research stages include determining the site classification and peak ground acceleration (PGA) through probabilistic seismic hazard analysis (PSHA), modifying ground motions using nonlinear time-history analysis with amplitude scaling, assessing liquefaction potential using the simplified method and numerical site response analysis, and evaluating the bearing capacity, deformation, and safety factor of the foundation. Based on ten Standard Penetration Test (SPT) boreholes, the site was classified as a medium site with a PGA of 0.5406 g. The selected input ground motion was the Northridge-01 (1994) earthquake record, H2 component, scaled by a factor of 1.562, resulting in a scaled PGA of 0.6984 g. In general, the study area exhibits a low liquefaction hazard. At borehole BH-08, the simplified method predicted liquefaction at depths of 10–16 m (SF < 1>
Kata Kunci : Likuefaksi, Fondasi Tiang Bor, UBC3D-PLM, Analisis Dinamik, Kapasitas Dukung.