Interaksi Farmakokinetik Ekstrak Meniran (Phyllanthus niruri) dan Rifampisin: Kajian In Vivo, In Vitro, dan In Silico
Mirhansyah Ardana, Prof. apt. Agung Endro Nugroho, M. Si., Ph. D.
2026 | Disertasi | S3 Ilmu Farmasi
Suplementasi ekstrak meniran (Phyllanthus niruri) pada pasien TB menunjukkan perbaikan imunitas dan penurunan virulensi, sehingga penggunaannya mendukung capaian target SDG 3.3 oleh PBB. Namun potensi interaksinya dengan rifampisin belum diketahui. Mengingat efektivitas rifampisin sangat bergantung pada bioavailabilitasnya, maka interaksi farmakokinetik dapat berdampak pada keberhasilan terapi. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh ekstrak meniran pada profil farmakokinetik rifampisin serta mengungkap mekanisme interaksinya melalui pendekatan in vivo, in vitro, dan in silico.
Metode penelitian meliputi validasi parsial metode analisis kadar rifampisin dalam plasma, homogenat organ, dan feses, serta untuk uji disolusi menggunakan HPLC-PDA. Studi in vivo dilakukan untuk mengevaluasi parameter farmakokinetik, biodistribusi, ekskresi, dan motilitas usus. Uji in vitro mencakup analisis profil disolusi, spektrum UV-Vis, dan kromatogram rifampisin pada pH 2 dan 6,8. Selanjutnya identifikasi metabolit sekunder ekstrak menggunakan LC-MS/MS, kemudian diikuti dengan penelusuran bioinformatika melalui prediksi ADME, network pharmacology dan molecular docking.
Validasi yang dilakukan secara parsial menunjukkan bahwa metode terbukti valid dan layak digunakan pada penetapan kadar rifampisin. Pada uji in vivo, pemberian ekstrak meniran tidak mempengaruhi AUC, Cmax, CL/F, Vd/F, biodistribusi rifampisin pada 2 jam pascaperlakuan serta ekskresi rifampisin. Namun terjadi penurunan nilai Ka dari 1,12/jam menjadi 0,24/jam (p :0,0159; p <0>in silico kemungkinan berkorelasi dengan mekanisme antagonis reseptor ??A-adrenergik. Selanjutnya, pembentukan kompleks non-kovalen pada pH 2 dibuktikan berdasarkan penurunan puncak kromatogram serta hipokromisitas rifampisin pada ?max 334 nm akibat penambahan ekstrak. Kemudian, ekstrak juga menyebabkan peningkatan disolusi rifampisin pada pH 6,8 yang signifikan pada menit ke 20 dan 40 (p :0,0088; p <0>network pharmacology mengonfirmasi potensi interaksi melalui kompetisi afinitas pada transporter P-gp antara senyawa dalam ekstrak dan rifampisin. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa ekstrak meniran single dose memicu interaksi multi-mekanisme yang mengubah kinetika absorpsi tanpa mempengaruhi bioavailabilitas rifampisin.
Phyllanthus niruri extract has been shown to improve immunity and reduce virulence in TB patients, supporting UN SDG 3.3. However, its interaction with rifampicin has not been established. Because rifampicin’s effectiveness depends on bioavailability, any pharmacokinetic interaction could affect treatment success. This study aims to examine the effect of Phyllanthus niruri extract on rifampicin pharmacokinetics and to elucidate the mechanism of this interaction through in vivo, in vitro, and in silico approaches.
The research methods included partial validation of the analytical methods for determining rifampicin concentrations in plasma, organ homogenates, and feces, as well as dissolution testing using HPLC-PDA. In vivo studies were conducted to evaluate pharmacokinetic parameters, biodistribution, excretion, and intestinal motility. In vitro tests included analysis of the dissolution profile, UV-Vis spectrum, and rifampicin chromatogram at pH 2 and pH 6.8. Next, secondary metabolites in the extract were identified using LC-MS/MS, followed by bioinformatics analysis through ADME prediction, network pharmacology, and molecular docking.
Partial validation showed that the method was valid and suitable for determining rifampicin concentrations. In in vivo tests, administration of Phyllanthus niruri extract did not affect the AUC, Cmax, CL/F, Vd/F, biodistribution of rifampicin 2 hours after treatment, and rifampicin excretion. However, there was a decrease in the Ka value from 1.12/hour to 0.24/hour (p : 0,0159; p < 0>Phyllanthus niruri extract triggers multi-mechanism interactions that alter absorption kinetics without affecting rifampicin bioavailability.
Kata Kunci : Tuberkulosis, kompleks non-kovalen, motilitas usus, kinetika absorpsi, dan uji disolusi