Dampak Penggunaan Metode Pagar Jaring Penghalau Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) Terhadap Burung Di Kalurahan Giriwungu Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul
IRFAN ROSYADI, Dr. rer. silv. Muhammad Ali Imron, S.Hut, M.Sc ; Dr. Ir. Much. Taufik Tri Hermawan, S.Hut., M.Si. IPU
2026 | Tesis | S2 Ilmu Kehutanan
Konflik manusia dan satwa liar merupakan isu global yang kompleks, dan penyelesaiannya seringkali menimbulkan dampak sampingan terhadap keanekaragaman hayati. Di Kalurahan Giriwungu, Gunungkidul, konflik antara petani dan monyet ekor panjang telah menyebabkan meluasnya penggunaan jaring nilon. Peraturan Kalurahan (PERKAL) No. 5 Tahun 2023 mengamanatkan pengaturan penggunaan jaring yang ramah lingkungan, namun implementasinya memerlukan informasi dasar berupa data dampak jaring terhadap burung dan persepsi masyarakat. Penelitian ini menggabungkan pendekatan ekologis dan sosial. Pendekatan ekologis digunakan untuk memahami dampak jaring penghalau monyet terhadap burung, sementara pendekatan Knowledge, Attitude, and Practice (KAP) digunakan untuk melihat persepsi masyarakat terhadap Perkal dan pelestarian burung. Penelitian dilakukan di Padukuhan Pejaten dan Klepu, Giriwungu, dengan survei KAP terhadap 100 petani serta survei ekologi menggunakan poin count dan pengamatan kasus burung terjerat. Hasil menunjukkan bahwa keputusan petani menggunakan jaring tidak dipengaruhi oleh pengetahuan, sikap, atau praktik mereka (p > 0,05), melainkan secara signifikan didorong oleh intensitas serangan monyet (p < 0>Otus lempiji) sebanyak 15 individu. Jenis lain yang terdampak meliputi Cekakak Jawa, Perkutut Jawa, Tekukur Biasa, Delimukan Zamrud, dan Ayam-hutan hijau. Terdapat korelasi positif signifikan antara luas lahan berjaring dan jumlah kasus satwa terjerat (? = 0,0003488; p = 0,00657). Penelitian menyimpulkan bahwa pemasaingan jaring dilahan pertanian untuk mencegah serangan monyet ekor Panjang berdampak pada tertangkapnya tertangtapnya burung yang juga berpotensi mempengaruhi spesies penting secara ekologis. Sebagian besar petani bersikap positif terhadap regulasi (skor > 4/5), namun implementasi Perkal ini harus diimbangi dengan peningkatan kesadaran masyarakat. Pemerintah Giriwungu perlu mengimplementasikan perkal dengan membuat panduan teknis pemasangan jaring yang ramah satwa dan mendorong strategi mitigasi alternatif.
Human-wildlife conflict is a complex global
issue whose resolution often causes unintended consequences for biodiversity.
In Kalurahan Giriwungu, Gunungkidul, conflict between farmers and long-tailed
macaques has triggered the widespread use of nylon nets. Kalurahan Regulation
(PERKAL) No. 5 of 2023 mandates the regulation of environmentally friendly
netting practices, yet its implementation requires baseline information on the
impacts of nets on birds and community perceptions. This study combines
ecological and social approaches. The ecological approach was used to
understand the impact of monkey barrier nets on birds, while the Knowledge,
Attitude, and Practice (KAP) approach was employed to examine community
perceptions of the Perkal and bird conservation. The research was conducted in
Pejaten and Klepu hamlets, Giriwungu, through KAP surveis of 100 farmers and
ecological surveis using poin counts and direct observation of bird
entanglement cases. Results indicate that farmers' decisions to use nets are
not influenced by their knowledge, attitudes, or practices (p > 0.05), but
are significantly driven by intensity of
monkey attacks (p < 0>Otus
lempiji) with 15 individuals. Other affected species include the Javan
Kingfisher, Zebra Dove, Spotted Dove, Asian Emerald Dove, and Green Junglefowl.
A significant positive correlation was found between netted area size and the
number of entanglement cases (? = 0.0003488; p = 0.00657). The study concludes
that netting causes bird bycatch, potentially affecting ecologically important
species. Most farmers hold positive attitudes toward the regulation (mean score
> 4/5), yet its implementation must be accompanied by increased community
awareness. The Giriwungu government is advised to implement the Perkal by
developing technical guidelines for wildlife-safe net installation and
promoting alternative mitigation strategies.
Kata Kunci : Konflik Manusia-Satwa Liar, Persepsi Petani, Jaring Penghalau, Peraturan Kalurahan, Konservasi Burung, Bycatch, Gunungkidul/Human-Wildlife Conflict, Farmer Perception, Barrier Netting, Village Regulation, Bird Conservation, Bycatch, Gunungkidul