Laporkan Masalah

Evaluasi Implementasi Sistem Manajemen Keselamatan Angkutan Umum pada Trans Jateng Koridor Solo - Wonogiri

ANDI CAHYANTO, Prof. Ir. Siti Malkhamah, M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN.Eng.; Ir. Mukhammad Rizka Fahmi Amrozi, S.T., M.Sc.,Ph.D., IPM.

2026 | Tesis | S2 Mag. S. & T.Transportasi

Keselamatan angkutan umum merupakan aspek penting dalam penyelenggaraan transportasi publik yang berkelanjutan. Pemerintah telah menetapkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 85 Tahun 2018 tentang Sistem Manajemen Keselamatan (SMK) Perusahaan Angkutan Umum sebagai pedoman penerapan keselamatan secara sistematis. Implementasi SMK pada operator angkutan umum di Indonesia masih relatif rendah. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat implementasi SMK pada operator Trans Jateng Koridor Solo–Wonogiri, mengidentifikasi kesenjangan terhadap standar regulasi, menganalisis tingkat risiko operasional, serta merumuskan rekomendasi peningkatan implementasi dan pengembangan keselamatan operasional.

Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan telaah dokumen. Evaluasi implementasi dilakukan berdasarkan instrumen penilaian SMK yang mengacu pada Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Nomor KP.1990/AJ.503/DRJD/2019 terhadap sepuluh elemen SMK. Analisis kesenjangan digunakan untuk membandingkan kondisi aktual dengan standar regulasi, sedangkan analisis risiko operasional dilakukan menggunakan metode Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control (HIRARC). Hasil evaluasi kemudian diintegrasikan sebagai dasar penyusunan rekomendasi perbaikan dan pengembangan keselamatan operasional.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat implementasi SMK pada operator Trans Jateng Koridor Solo–Wonogiri belum diterapkan secara optimal terutama pada aspek manajemen bahaya dan risiko, peningkatan kompetensi dan pelatihan, monitoring dan evaluasi, serta pengukuran kinerja. Analisis kesenjangan menunjukkan adanya perbedaan antara standar regulasi dan praktik di lapangan. Analisis risiko menunjukkan adanya risiko operasional pada kategori sedang hingga tinggi. Berdasarkan temuan tersebut, disusun rekomendasi penguatan implementasi SMK dan pengembangan praktik keselamatan operasional hasil benchmarking terhadap Transport for London.


Public transportation safety is an essential aspect of sustainable public transport operations. The Government of Indonesia has enacted Minister of Transportation Regulation No. PM 85 of 2018 concerning the Safety Management System (SMS) for Public Transportation Companies as a guideline for the systematic implementation of safety management. The implementation of SMS among public transport operators in Indonesia remains relatively limited. This study aims to evaluate the level of SMS implementation at the Trans Jateng Solo–Wonogiri Corridor operator, identify gaps with regulatory standards, analyze operational risk levels, and formulate recommendations for improving SMS implementation and enhancing operational safety practices.

This study employed a qualitative descriptive approach. Data were collected through observations, in-depth interviews, and document reviews. The evaluation of SMS implementation was conducted using an assessment instrument based on the Director General of Land Transportation Regulation No. KP.1990/AJ.503/DRJD/2019, covering ten SMS elements. Gap analysis was used to compare actual conditions with regulatory standards, while operational risk analysis was carried out using the Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control (HIRARC) method. The evaluation results were subsequently integrated as the basis for developing recommendations for improvement and operational safety enhancement.

The findings indicate that the implementation of SMS at the Trans Jateng Solo–Wonogiri Corridor operator has not been carried out optimally, particularly in the areas of hazard and risk management, competency development and training, monitoring and evaluation, and performance measurement. The gap analysis revealed discrepancies between regulatory standards and actual operational practices. The risk analysis identified operational risks ranging from moderate to high levels. Based on these findings, recommendations were formulated to strengthen SMS implementation and improve operational safety practices through benchmarking against Transport for London.


Kata Kunci : Sistem Manajemen Keselamatan, angkutan umum, Trans Jateng, analisis risiko, HIRARC

  1. S2-2026-536314-abstract.pdf  
  2. S2-2026-536314-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-536314-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-536314-title.pdf