Laporkan Masalah

Inventarisasi dan Kajian Makna Simbolik Katuranggan Sapi Penarik Gerobak di Yogyakarta

Muhamad Zidan Baizaqi, Prof. Ir. Panjono, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM., ASEAN Eng

2026 | Skripsi | ILMU DAN INDUSTRI PETERNAKAN

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan inventarisasi dan dokumentasi ragam katuranggan sapi penarik gerobak serta menganalisis makna simboliknya di kalangan penggiat sapi gerobak di Yogyakarta. Penelitian ini melibatkan 30 responden yang terdiri atas penggiat, pemilik, dan peternak sapi gerobak yang dipilih menggunakan teknik snowball sampling. Pengumpulan data dilaksanakan melalui tiga tahap, yaitu karakterisasi responden, inventarisasi, dan konfirmasi. Data inventarisasi dianalisis secara deskriptif kualitatif, sedangkan data karakterisasi dan konfirmasi dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian berhasil menginventarisasi 16 jenis katuranggan, yaitu blorok tembus, blorok ra tembus, blorok pendem, sungu bunder, sirah jenongg, sujen, rowo, ringkes, Bali rambon, Jiragem, Rajek wesi, benggolo, pawakan, Pari sewuli, Pari sejata, dan Kembang sepasang. Dari 16 jenis katuranggan tersebut, 12 jenis diketahui oleh lebih dari 50% responden, 10 jenis dipercaya oleh lebih dari 50% responden, dan 8 jenis digunakan oleh lebih dari 50% responden sebagai acuan dalam seleksi sapi gerobak. Katuranggan blorok tembus dan pawakan diketahui oleh seluruh responden (100%), sedangkan blorok tembus juga menjadi katuranggan dengan tingkat kepercayaan dan penggunaan tertinggi, masing-masing sebesar 100%. Sebaliknya, benggolo berada pada tingkat pengetahuan, kepercayaan, dan penggunaan terendah. Katuranggan yang dimaknai positif umumnya dikaitkan dengan sifat jinak, tenaga yang kuat, dan daya tahan kerja yang baik, sedangkan katuranggan yang dimaknai negatif dikaitkan dengan sifat agresif, sulit dikendalikan, atau dianggap membawa kesialan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa katuranggan masih digunakan sebagai salah satu dasar penilaian dan seleksi sapi penarik gerobak di Yogyakarta.

This study aimed to inventory and document the varieties of katuranggan of cart-pulling cattle and to analyze their symbolic meanings among cart cattle practitioners in Yogyakarta. The study involved 30 respondents consisting of cart cattle handlers, owners, and practitioners who were selected using the snowball sampling technique. Data were collected through three stages, namely respondent characterization, inventory, and confirmation. Inventory data were analyzed descriptively using a qualitative approach, while characterization and confirmation data were analyzed descriptively using a quantitative approach. The results successfully identified 16 types of katuranggan, namely blorok tembus, blorok ra tembus, blorok pendem, sungu bunder, sirah jenongg, sujen, rowo, ringkes, Bali rambon, Jiragem, Rajek wesi, benggolo, pawakan, Pari sewuli, Pari sejata, and Kembang sepasang. Of the 16 identified katuranggan, 12 were known by more than 50% of respondents, 10 were believed by more than 50% of respondents, and 8 were used by more than 50% of respondents as criteria in cart cattle selection. Blorok tembus and pawakan were recognized by all respondents (100%), while blorok tembus also showed the highest levels of belief and application, both reaching 100%. In contrast, benggolo had the lowest levels of knowledge, belief, and application among respondents. Positive katuranggan were generally associated with docile temperament, strong working ability, and good endurance, whereas negative katuranggan were associated with aggressive behavior, difficulty in handling, or misfortune. It is concluded that katuranggan remains one of the traditional criteria used for evaluating and selecting cart-pulling cattle in Yogyakarta.

Kata Kunci : Cart Cattle, Cymbolic meaning, Inventory, Katuranggan

  1. S1-2026-505411-abstract.pdf  
  2. S1-2026-505411-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-505411-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-505411-title.pdf