Ambivalensi, Mimikri dan Kritik terhadap Barat dalam Sastra Perang Dingin Indonesia Era Awal Orde Baru:Perspektif Oksidentalisme
Muhammad Taufiqurrohman, Dr. Sudibyo, M.Hum.; Prof. Dr. Fadlil Munawwar Manshur, M.S.
2026 | Disertasi | S3 Ilmu-ilmu Humaniora
Kajian Sastra Perang Dingin global hingga kini masih
didominasi oleh narasi Amerika Serikat dan Uni Soviet, sehingga perspektif
sastra dari negara-negara Dunia Ketiga seperti Indonesia sering terabaikan.
Penelitian ini berupaya mengisi celah tersebut dengan menganalisis pengaruh
geopolitik Perang Dingin dan imperialisme budaya Blok Barat dalam pembentukan
Sastra Perang Dingin Indonesia pada era awal Orde Baru. Selain itu, penelitian
ini bertujuan untuk mengungkap tiga bentuk representasi Oksidentalisme—ambivalensi,
mimikri, dan kritik—terhadap Barat (baik manusia maupun kebudayaannya) yang
termanifestasi dalam karya-karya sastra periode tersebut.
Pengumpulan data dilakukan melalui teknik baca-catat sistematis atas
korpus tujuh karya sastra Indonesia, dengan data primer berupa satuan teks
naratif yang merepresentasikan Barat dan relasi Timur-Barat serta interseksi ras,
kelas, dan gender. Data sekunder meliputi sumber biografis,
historis-kontekstual, dan literatur akademis terkait. Analisis dilakukan dengan
pendekatan kualitatif interpretatif yang mengintegrasikan perspektif
pascakolonial dan morfologi kritik “luas–dekat–dalam”.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa Sastra Perang Dingin Indonesia lahir
dari ketegangan ideologis kapitalisme-komunisme yang berkelindan dengan
dinamika dekolonisasi. Kelima penulis yang dikaji—Mochtar Lubis, Nh.?Dini,
Ashadi Siregar, Umar Kayam, dan Budi Darma—meski berada dalam posisi non-kiri
yang sama, menghasilkan corak Oksidentalisme yang berbeda: Maut dan Cinta
dan Keberangkatan merepresentasikan ambivalensi; trilogi “Kampus Biru”
menampilkan praktik mimikri; sedangkan Seribu Kunang-Kunang di Manhattan
dan Orang-Orang Bloomington menyajikan kritik tajam terhadap masyarakat
Amerika. Penelitian ini menegaskan bahwa konteks Perang Dingin dan imperialisme
budaya tidak hanya membentuk produksi sastra Indonesia, tetapi juga
menjadikannya bagian dari arsip kritis Sastra Perang Dingin global.
Global Cold War literary studies remain predominantly
shaped by narratives from the United States and the Soviet Union, often
marginalizing the literary perspectives of Third World countries such as
Indonesia. This research seeks to address this gap by analyzing the influence
of Cold War geopolitics and the cultural imperialism of the Western Bloc on the
formation of Indonesian Cold War Literature during the early New Order era.
Furthermore, it aims to uncover three manifestations of
Occidentalism—ambivalence, mimicry, and critique—toward the West (both its
people and culture) as reflected in the literary works of this period.
Data were
collected through a systematic close-reading and note-taking technique applied
to a corpus of seven Indonesian literary works. Primary data consist of
narrative textual units representing the West, East-West relations, and the
intersections of race, class, and gender. Secondary data include biographical
sources, historical-contextual materials, and relevant academic literature.
Analysis was conducted using a qualitative interpretive approach that
integrates postcolonial perspectives and the “broad-close-deep” critical
morphology.
The findings
indicate that Indonesian Cold War Literature emerged from the ideological
tensions between capitalism and communism, intertwined with decolonial
dynamics. The five authors studied—Mochtar Lubis, Nh. Dini, Ashadi Siregar,
Umar Kayam, and Budi Darma—while sharing a non-leftist position, produced distinct
modes of Occidentalism: Maut dan Cinta (Love and Death) and Keberangkatan
(The Departure) represent ambivalence; the “Kampus Biru” (Blue Campus) trilogy
exemplifies mimicry; while Seribu Kunang-Kunang di Manhattan (A Thousand
Fireflies in Manhattan) and Orang-Orang Bloomington (The People of
Bloomington) offer sharp critiques of American society. This study affirms that
the context of the Cold War and cultural imperialism not only shaped Indonesian
literary production but also positioned it as part of the critical archive of
global Cold War literature.
Kata Kunci : Perang Dingin/Cold War, Sastra Perang Dingin Indonesia/Indonesian Cold War Literature, Oksidentalisme/Occidentalism, ambivalensi/ambivalence, mimikri/mimicry, kritik/critique