Penerjemahan Kesantunan dalam Tindak Tutur Direktif dari Bahasa Jawa ke Bahasa Inggris dalam Sulih Teks Film Pendek Produksi Paniradya Kaistimewan: Studi Kesepadanan Pragmatik
Emi Nursanti, Prof. Suhandano, M.A.; Dr. Sulistyowati, M.Hum.
2026 | Disertasi | S3 Ilmu-ilmu Humaniora
Kesantunan dimanifestasikan secara bervariasi pada budaya yang berbeda. Bahasa Jawa dan bahasa Inggris, sebagai representasi Timur dan Barat, menggunakan fitur kesantunan yang berbeda. Studi ini menginvestigasi fenomena tersebut melalui data dialog bahasa Jawa dan sulih teks bahasa Inggris dalam film pendek produksi Paniradya Kaistimewan. Dengan fokus pada tindak tutur direktif (TTD), studi ini bertujuan untuk: 1) mengeksplorasi strategi TTD dalam bahasa Jawa, 2) menganalisis hasil penerjemahan TTD dalam sulih teks bahasa Inggris dan 3) menginvestigasi makna teoretis dan implikasi dari peralihan tersebut terhadap kesepadanan pragmatik, representasi hierarki dan struktur sosial, unsur intrinsik film, teori kesantunan Jawa-Inggris, dan praktik penerjemahan sulih teks. Penelitian ini merupakan studi kasus dengan desain holistic explanatory multiple-case study. Data TTD dari 20 film pendek dikumpulkan melalui transkripsi selektif dan dianalisis secara kualitatif, komparatif, dan interpretatif. Untuk tujuan pertama, temuan menunjukkan bahwa strategi terus terang mendominasi, dengan strategi terus terang - lemah menjadi yang paling sering digunakan. Struktur pragmatik yang berorientasi head act dengan pola sederhana atau dengan piranti mitigasi juga mendominasi. Ini merefleksikan preferensi terhadap komunikasi terus terang dan keseimbangan antara kejelasan dan kesantunan. Dengan demikian, gagasan bahwa ketidakterusterangan merupakan komponen penting dari kesantunan tidak selamanya berlaku. Untuk tujuan kedua, studi ini menemukan bahwa penerjemahan langsung lebih dominan. Strategi tersebut bukan penerjemahan literal karena melibatkan modulasi untuk mempertahankan strategi TTD teks sumber. Data pergeseran menggambarkan adanya negosiasi pragmatik, dengan mayoritas data menunjukkan peningkatan keterusterangan, melalui eksplisitasi, untuk mendukung pengembangan plot dan mengatasi keterbatasan subtitling dan sebagian data memperlihatkan penurunan keterusterangan untuk menyesuaikan dengan norma kesantunan bahasa Inggris. Rendahnya frekuensi penerjemahan pragmalinguistik menyiratkan orientasi teks sasaran tidak hanya pada fungsi pragmatik dan bentuk linguistik yang sama, meskipun teks sasaran yang dihasilkan tidak selalu berterima, natural, dan sepadan penuh secara pragmatik. Untuk tujuan ketiga, studi ini mengungkap bahwa kesepadanan pragmatik merupakan gradien pencapaian yang bersifat optimal maupun parsial. Kecenderungan data yang hanya mencapai kesepadanan parsial berdampak pada hilangnya struktur hierarki dalam komunikasi masyarakat Jawa dan ujaran yang tidak natural dalam bahasa Inggris, sehingga menghasilkan interaksi yang terkesan lebih egaliter, karakterisasi yang datar, dan distorsi makna yang mengganggu pemahaman narasi. Selain berkontribusi pada pemahaman tentang kesantunan dan facework di masyarakat hierarkis, usulan model spesifik untuk budaya kolektivis, dan perspektif kesepadanan pragmatik nonbiner, studi ini juga menawarkan perspektif lain tentang kesantunan Timur-Barat dari bahasa Jawa, yaitu bahwa kesantunan bersifat universal, hanya berada pada titik yang berbeda pada kontinum yang sama. Bahasa Jawa berada di ujung discernment, sedangkan bahasa Inggris berada di ujung volition.
Politeness manifests itself in various ways across cultures. Javanese and English, as representations of the East and the West, employ different politeness features. This study investigates this phenomenon through Javanese dialogue and its English subtitles in short films produced by Paniradya Kaistimewan. Focusing on directive speech acts (DSAs), the study aims to 1) explore the DSA strategies in Javanese, 2) analyze the DSA translation in English subtitles, and 3) investigate the theoretical meaning and implications of this translation on pragmatic equivalence, representation of hierarchy and social structure, intrinsic elements of film, Javanese-English politeness theory, and subtitling practices. This is a case study with a holistic explanatory multiple-case study design. Data of DSAs from 20 short films were collected through selective transcription and analyzed qualitatively, comparatively, and interpretively. Findings for the first objective indicate that direct strategies dominate, with the weak direct being the most frequently used. Head-act-oriented pragmatic structures in simple patterns and ones modified by mitigating devices also dominate. This reflects a preference for direct communication and a balance between clarity and respect. Thus, the idea that directness is an important component of politeness does not always hold. For the second objective, the study found that direct translation was prevalent. It is not a literal translation because it involves modulation to maintain the source text’s directive strategy. The data showing translation shift illustrates pragmatic negotiation, with the majority of the data demonstrating an increase in directness through explicitness to support plot development and overcome the limitations of subtitling, while some of them display a decrease in directness to conform to English politeness norms. The low frequency of pragmalinguistic translation implies that the orientation of the target text is not only towards the same pragmatic function and linguistic form, although the resulting target text is not always acceptable, natural, and fully pragmatically equivalent. For the third question, the study reveals that pragmatic equivalence is a gradient of achievement, which can be optimal and partial. With the data tendency to only achieve partial equivalence, this has an impact on the loss of hierarchical structure in Javanese communication and unnatural speech in English, resulting in interactions that seem more egalitarian, flat characterization, and distortion of meaning that interferes with narrative comprehension. Besides contributing to the understanding of politeness and facework in hierarchical societies, proposing a specific model for collectivist cultures, and suggesting a new perspective on non-binary pragmatic equivalence, this study also offers a different viewpoint on East-West politeness from the Javanese perspective. It argues that politeness is universal, but it exists at different points on the same continuum, with Javanese at the discernment end, while English is at the volition end.
Kata Kunci : kesantunan Jawa, ke(tidak)terusterangan, mediasi pragmatik, penerjemahan audiovisual, pragmatik lintas budaya