Modalitas noda Bahasa Jepang dalam Novel Terjemahan: Studi Kasus Penerjemahan Laskar Pelangi ke dalam Niji no Shounentachi
Hana Nimashita, Prof. Dr. Suhandano, M.A., Dr. Tatang Hariri, M.A.
2026 | Disertasi | S3 Ilmu-ilmu Humaniora
Noda sebagai salah satu modalitas penjelas (setsumei modariti) dalam bahasa Jepang menunjukkan adanya hubungan antarproposisi dan unsur yang berada di luar proposisi. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi modalitas noda dalam bahasa Jepang dan kesepadanannya dalam bahasa Indonesia dengan fokus pada novel Niji no Shounentachi (teks sasaran) yang diterjemahkan dari novel Laskar Pelangi (teks sumber). Pemilihan data pada penelitian ini ditujukan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk lingual dalam bahasa Indonesia yang berpadanana dengan modalitas noda.Selain itu juga mengeksplorasi faktor-faktor yang mendorong penerjemah bahasa Jepang menangkap konteks kalimat dalam bahasa Indonesia dan mentransfer ke dalam kalimat bahasa Jepang yang berpenanda modalitas noda. Hasil penelitian menunjukkan padanan dalam bahasa Indonesia berupa konjungsi, adverbia, nomina, demonstratif, dan sufiks yang memiliki fungsi sepadan dengan mdalitas noda. Faktor pemicu penggunaan modalitas noda dalam teks terjemahan yaitu faktor koherensi, diskontinuitas, dan harmoni. Simpuan yang diperoleh adalah sikap pembicara yang subjektif pada teks sasaran dipengaruhi oleh budaya komunikasi masyarakat Jepang uang berorientasi sosial, sementara budaya komunikasi masyarakat Indonesia mengutamakan ketersampaian informasi sehingga bentuk-bentuk yang digunakan tidak mengindikasikan sikap pembicara secara khusus.
Noda as one of the explanatory modality in Japanese indicates a relantionship between propositions and elements outside the proposition. This study aims to investigate the noda modality in Japanese and its equivalent in Indonesian with a focus on the novel Niji no Shounentachi (target text) translated from the novel Laskar Pelangi (source text). The data selection in this study is aimed at identifying lingual forms in Indonesian that are equivelent to the noda modality. In addition,it also explores the factors that encourage Japanese translators to capture the context of sentences in Indonesian and transfer them into Japanese sentences markerd by the noda modality. The results of the study show that the equivalents in Indonesian are conjuctions, adverbs, nouns, demonstrative, and suffixies that have functions equivalent to the noda modality. The factors triggering the use of noda modality in translated texts are coherence, discontinuity, and harmony. The conclusion obtained by the socially oriented commnunication culture of Japanese society, while the communication culture of Indonesian society prioritizes the delivery of information so that the forms used do not indicate the speaker's attitude specifically.
Kata Kunci : modalitas eksplanasi noda, analisis kesepadanan, diskontinuitas, koherensi, harmoni