PERANAN HIDROGEL UNTUK MENDUKUNG KEBERHASILAN PENANAMAN JATI PADA MUSIM KERING DI KHDTK WANAGAMA I, YOGYAKARTA
Muhammad Sa'duddin, Prof. Ir. Widiyatno, S. Hut., M. Sc., Ph.D., IPM. ; Ir. Aqmal Nur Jihad, S. Hut., M. Sc.
2026 | Skripsi | KEHUTANAN
Perubahan iklim yang terjadi saat ini membawa beberapa
dampak, salah satunya adalah ketidakpastian musim. Ketidakpastian musim akan menyebabkan
adanya gangguan terhadap aktivitas manusia. Salah satu aktivitas yang terganggu
adalah program rehabilitasi lahan. Program rehabilitasi lahan yang dilakukan di
KHDTK Wanagama I menggunakan Jati (Tectona grandis F.linn). Penanaman pohon
jati umumnya dilaksanakan di awal musim hujan. Pada 2023, pergeseran musim
menyebabkan kemunduran datangnya musim hujan yang semula biasanya terjadi di
bulan Oktober/November. Hidrogel menjadi inovasi dan mitigasi karena kegunaannya
untuk membantu menstabilkan kelembaban tanah dan mampu menyimpan cadangan air.
Rancangan penelitian menggunakan metode Randomized Complete
Block Design. Terdapat 3 blok dengan masing-masing blok berisi 5 plot,
masing-masing plot berisikan 16 tanaman. 1 blok tanaman berisi 5 plot tanam
dengan setiap plot memiliki perlakuan yakni dosis hidrogel 0 ml/kontrol, 500
ml, 1.000 ml, 1.500 ml, dan 2.000 ml. Metode tersebut diharapkan mampu memberi
informasi mengenai dosis yang optimal untuk jati sehingga dapat tumbuh secara
optimal di musim kering.
Tanaman jati dengan perlakuan kontrol memiliki persentase
hidup 0%, berbeda nyata dengan tanaman jati yang diberi perlakuan hidrogel yang
mampu membantu meningkatkan persentase hidup tanaman jati dengan rata-rata
persen hidup mencapai 46,6%. Dari hasil analisis yang dilakukan, pengaplikasian
hidrogel dapat menjaga pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman jati yang
ditanam di musim kering.
Climate change hase caused various impatcs, including
seasonal uncertainty. Seasonal uncertainly may disrupt land rehabilitation
programs, particularly those relying on appropriate planting time. The land
rehabilitation program conducted at KHDTK Wanagama I utilizes teak (Tectona
grandis F. Linn). Teak planting is generally carried out at the beginning
of the rainy season. However, in 2023, seasonal shifts caused a delay in the
onset of the rainy season, which typically occurs in October or November.
Hydrogel has emerged as an innovation and mitigation strategy due to its
ability to stabilize soil moisture and store water reserves.
This study employed a Randomized Complete Block Design
(RCBD). The experiment consisted of three blocks, each containing five plots,
with each plot consisting of 16 plants. Each block included five treatment
plots with different hydrogel dosages, namely 0 ml/control, 500 ml, 1.000 ml,
1.500 ml, and 2.000 ml. This method was expected to provide information on the
optimal hydrogel dosage for teak growth under dry season conditions.
Teak seedlings in the control treatment exhibited a 0%
survival rate, which was significantly lower than that of seedlings treated
with hydrogel. Hydrogel application significantly improved seedling survival,
resulting in an average survival rate of 46.6%. Furthermore, the results
indicated that hydrogel application effectively maintained the height and
diameter growth of teak seedlings planted during the dry season.
Kata Kunci : perubahan iklim, musim kering, jati, hidrogel, dosis hidrogel