Laporkan Masalah

(Re)Thinking State Homophobia in Indonesia

Gabriel Jovan Adidharma, Drs. Muhadi Sugiono, M.A.

2026 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional

Di Indonesia, kehidupan kwir (queer) menjadi sasaran pengawasan, penangkapan, dan “koreksi” oleh organ-organ negara. Namun, tidak terdapat suatu rezim homofobia yang koheren untuk ditegakkan oleh organ-organ tersebut: Undang-Undang Hukum Pidana nasional tidak mengkriminalisasi hubungan sesama jenis yang dilakukan secara konsensual, sementara persekusi anti-kwir nyata, tetapi berlangsung secara asimetris, episodik, dan sebagian besar bersifat ekstralegal. Tesis ini mempertanyakan hubungan antara homofobia dan negara di Indonesia. Tesis ini berargumen bahwa kategori dominan state homophobia bertumpu pada suatu komitmen ontologis yang tidak diperiksa secara kritis, yakni pandangan mengenai negara sebagai aktor yang koheren dan memiliki intensi, sehingga mampu memiliki serta menjalankan homofobia sebagai suatu kebijakan. Kasus Indonesia, menurut tesis ini, justru membantah premis tersebut. Dengan bertumpu pada ontologi datar yang diturunkan dari pemikiran Deleuze serta konsep-konsep assemblage, abstract machine, dan apparatus of capture, tesis ini membingkai ulang homofobia bukan sebagai properti negara, melainkan sebagai operasi dari suatu mesin transnasional anti-kwir. Mesin ini melakukan overcoding terhadap tubuh-tubuh queer dengan mengodekan ke-kwir-an sebagai suatu patahan dalam tatanan waktu yang sakral. Di Indonesia, mesin tersebut merupakan resonansi dari tiga logika yang tidak berbagi suatu keyakinan bersama, tetapi bertemu pada permukaan satu proyeksi kiamat yang sama: teologi politik Islam, statisme pascakolonial, dan ilmu kedokteran. Negara tidak menciptakan mesin ini, tetapi menampung dan beresonansi dengannya, memberinya konsistensi sembari, dalam gerakan yang sama, memproduksi penampakan koherensinya sendiri—suatu relasi yang tesis ini sebut sebagai symbiotic capture. Tiga peristiwa resonansi (kepanikan nasional pada 2016, penghukuman cambuk di Aceh pada 2017, dan program barak di Jawa Barat pada 2025) mengonfirmasi asimetri yang diprediksi oleh teori ini.

In Indonesia, queer life is subjected to surveillance, capture, and "correction" by organs of the state, yet there exists no coherent legal regime of homophobia for those organs to enforce: the national Penal Code does not criminalise consensual same-sex relations, and anti-queer persecution is real but asymmetrical, episodic, and largely extra-legal. This thesis asks what the relation between homophobia and the state in Indonesia actually is. It argues that the dominant category of "state homophobia" rests on an unexamined ontological commitment to the state as a coherent, intentional actor capable of possessing and enacting homophobia as policy, and that Indonesia refutes this premise. Drawing on a flat ontology derived from Deleuze and the concepts of assemblage, abstract machine, and apparatus of capture, the thesis reframes homophobia not as a state property but as the operation of a transnational, stateless anti-queer machine that overcodes queer bodies by coding queerness as a rupture in a sacred order of time. In Indonesia, this machine is the resonance of three logics that share no common belief but meet on the surface of a single doomsday projection: Islamic political theology, postcolonial statism, and medical science. The state does not author this machine but harbours and resonates it, lending it consistency while manufacturing, in the same movement, its own appearance of coherence—a relation the thesis names symbiotic capture. Three resonance events (the 2016 national panic, Aceh's 2017 canings, and the 2025 West Java barracks program) confirm the asymmetry the theory predicts.

Kata Kunci : State homophobia, Assemblage, Queer International Relations, State Theory

  1. S1-2026-496154-abstract.pdf  
  2. S1-2026-496154-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-496154-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-496154-title.pdf