Risiko Pendapatan Usaha Tani Polikultur Kopi Arabika di Kecamatan Ngadirejo Kabupaten Temanggung
Diva Novitasari, Asih Kusumaningsih, S.P., M.Sc. ; Prof. Dr. Jamhari, S.P., M.P.
2026 | Skripsi | SOS.EK. PERTANIAN (AGROBISNIS)
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui besarnya pendapatan usaha tani polikultur
kopi arabika berdasarkan kombinasi tanaman di Kecamatan Ngadirejo Kabupaten
Temanggung; (2) mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan usaha tani
polikultur kopi arabika di Kecamatan Ngadirejo Kabupaten Temanggung; (3)
mengetahui risiko pendapatan usaha tani polikultur kopi arabika berdasarkan kombinasi
tanaman di Kecamatan Ngadirejo Kabupaten Temanggung. Penelitian ini menggunakan
metode analisis deskriptif dengan jumlah sampel sebanyak 60 petani yang menerapkan
usaha tani polikultur kopi arabika. Lokasi penelitian ditentukan secara purposive
sampling di Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung. Analisis yang digunakan
meliputi analisis pendapatan usaha tani, analisis regresi linear berganda dengan
pendekatan Unit Output Price Cobb-Douglas Profit Function (UOP-CDPF), serta
analisis risiko pendapatan menggunakan koefisien variasi (CV) dan batas bawah
pendapatan (L). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pendapatan usaha tani
tertinggi diperoleh pada pola tanam kopi arabika-tembakau-cabai (Pola 2) sebesar
Rp97.555.554,77 per hektare, diikuti pola tanam kopi arabika-tembakau (Pola 1)
sebesar Rp.83.595.893,92 per hektare, dan pola tanam kopi-tanaman lain (Pola 3)
sebesar Rp 51.227.430,56 per hektare; (2) Faktor yang berpengaruh signifikan terhadap
pendapatan usaha tani polikultur kopi arabika adalah pengalaman petani, jumlah
tanggungan keluarga, luas lahan, dan harga pupuk kimia yang dinormalkan; (3) Risiko
pendapatan pada seluruh pola tanam tergolong tinggi, yang ditunjukkan oleh nilai CV
lebih dari 0,50 dan nilai batas bawah pendapatan (L) yang bernilai negatif. Nilai CV
dan L pada Pola 1 masing-masing sebesar 0,91 dan -Rp67.928.889,22 per hektare, pada
Pola 2 sebesar 0,79 dan -Rp57.511.633,17 per hektare, serta pada Pola 3 sebesar 0,92
dan -Rp43.310.160,80 per hektare.
This research aims to (1) determine the level of income from Arabica coffee polyculture
farming based on crop combinations in Ngadirejo Subdistrict, Temanggung Regency;
(2) identify the factors influencing income from Arabica coffee polyculture farming in
Ngadirejo Subdistrict, Temanggung Regency; (3) determine the income risks associated
with Arabica coffee polyculture farming based on crop combinations in Ngadirejo
Subdistrict, Temanggung Regency. This study employed a descriptive analysis of a
sample from 60 farmers practicing Arabica coffee polyculture farming. The study
location was selected using purposive sampling in Ngadirejo Subdistrict, Temanggung
Regency. The analyses conducted included farm income analysis, multiple linear
regression analysis using the Unit Output Price Cobb-Douglas Profit Function (UOP
CDPF) approach, and income risk analysis using the coefficient of variation (CV) and
the lower bound of income (L). The results of the study indicate that: (1) the highest
farm income was obtained from the Arabica coffee–tobacco–chili planting pattern
(Pattern 2) at Rp97,555,554.77 per hectare, followed by the Arabica coffee–tobacco
planting pattern (Pattern 1) at Rp83,595,893.92 per hectare, and the coffee-other crops
rotation (Pattern 3) at Rp 51,227,430.56 per hectare; (2) Factors that significantly
influence the income from Arabica coffee polyculture farming include farmers’
experience, the number of family dependents, land area, and the normalized price of
chemical fertilizers; (3) Income risk across all cropping patterns is classified as high,
as indicated by a CV value greater than 0.50 and a negative lower income limit (L)
value. The CV and L values for Pattern 1 are 0.91 and -Rp67,928,889.22 per hectare,
respectively; for Pattern 2, they are 0.79 and -Rp57,511,633.17 per hectare, and for
Pattern 3, 0.92 and -Rp43,310,160.80 per hectare.
Kata Kunci : kopi arabika, polikultur, pendapatan, risiko