Laporkan Masalah

Dari Pengalaman ke Pilihan: Proses Keterlibatan Perempuan dalam Aksi Nirkekerasan di Yogyakarta 2024-2026

Faiza Chairunnisa, Dr. Diah Kusumaningrum

2026 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional

Penelitian ini mengkaji bagaimana perempuan membentuk dan menegosiasikan pilihan mereka dalam aksi nirkekerasan di Yogyakarta antara tahun 2024 dan 2026. Menggunakan studi kasus jamak komparatif terhadap International Women's Day (IWD) Jogja dan gerakan prodemokrasi di Yogyakarta (Indonesia Darurat, Indonesia Gelap, dan Reset Indonesia), penelitian ini berargumen bahwa pilihan perempuan dalam aksi nirkekerasan tidak dapat dijelaskan oleh esensialisme gender, melainkan oleh dua mekanisme yang saling terhubung: meaning-making kolektif berbasis pengalaman ketubuhan yang tersituasi, dan kalkulasi ongkos keterlibatan yang tidak merata akibat kondisi sosial-politik yang meminggirkan perempuan. Dengan menggunakan kerangka othering (de Beauvoir, 1949), benevolent sexism (Naunov, 2024), dan fenomenologi feminis (Collantes, 2022), serta process tracing dan observasi partisipan sebagai metode, penelitian ini memperlakukan kedua mekanisme tersebut sebagai proses historis, bukan sifat yang tetap: pengalaman tersituasi pada satu titik waktu mempersempit ruang pilihan pada titik waktu berikutnya, mengikuti logika path dependence (Pierson, 2000), bukan logika deterministik. Penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan antara kedua gerakan lebih tepat dipahami sebagai dua jalur yang sebagian besar berkembang independen namun menunjukkan mekanisme yang sama, dan baru bertemu secara konkret pada satu titik kritis selama Reset Indonesia, ketimbang sebagai hubungan saling memengaruhi yang simetris dan berkelanjutan. Penelitian ini berkontribusi pada studi aksi nirkekerasan dengan menempatkan pengalaman ketubuhan perempuan yang tersituasi, dibaca lewat lensa process tracing, bukan kategori esensial gender maupun tubuh, sebagai variabel penjelas keterlibatan perempuan dalam perlawanan kolektif.


This study examines how women shape and negotiate their choices in nonviolent action in Yogyakarta between 2024 and 2026. Drawing on a comparative multiple-case study of International Women's Day (IWD) Jogja and Yogyakarta's pro-democracy movements (Indonesia Darurat, Indonesia Gelap, and Reset Indonesia), this paper argues that women's involvement in nonviolent action cannot be explained by gender essentialism, but rather by two interconnected mechanisms: collective meaning-making grounded in situated bodily experience, and an uneven calculus of participation costs produced by a socio-political context that marginalizes women. Using the frameworks of othering (de Beauvoir, 1949), benevolent sexism (Naunov, 2024), and feminist phenomenology (Collantes, 2022), alongside process tracing and participant observation, this study treats these mechanisms as a historical process rather than a fixed trait: situated experience at one point in time narrows the range of choices available at the next, following a path-dependent logic (Pierson, 2000) rather than a deterministic one. The study shows that the relationship between the two movements is best understood as two largely independent trajectories exhibiting the same mechanism, converging concretely only at a single critical juncture during Reset Indonesia, rather than as a sustained, symmetrical mutual influence. This paper contributes to nonviolent action studies by foregrounding women's situated bodily experience, read through a process-tracing lens, rather than essentialized categories of gender or the body, as the explanatory variable for women's participation in collective resistance.


Kata Kunci : aksi nirkekerasan, pengalaman ketubuhan, meaning-making kolektif, path dependence, process tracing, gerakan perempuan, fenomenologi feminis

  1. S1-2026-503324-abstract.pdf  
  2. S1-2026-503324-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-503324-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-503324-title.pdf