Analisis Deformasi Bendungan Batutegi di Lampung dengan Data Pengukuran Robotic Total Station (RTS) pada Bulan Oktober 2024 hingga Desember 2025 Menggunakan Metode Hitung Kuadrat Terkecil (HKT)
Angga Nur Kholis, Prof. Ir. Nurrohmat Widjajanti, M.T., Ph.D., IPU, ASEAN Eng.
2026 | Skripsi | TEKNIK GEODESI
Bendungan merupakan konstruksi yang dibangun untuk menahan dan menampung air serta dimanfaatkan untuk berbagai keperluan seperti irigasi, pembangkit listrik, dan pengendalian banjir. Bendungan Batutegi merupakan salah satu bendungan terbesar di Indonesia yang dibangun pada tahun 1994 dan diresmikan pada tahun 2004 di Provinsi Lampung. Bendungan memerlukan pemantauan keamanan secara berkelanjutan karena rentan terhadap deformasi, seperti penurunan tanah, erosi internal, dan retakan, akibat pengaruh gaya statik maupun dinamik. Dampak tersebut bersifat akumulatif dan sering kali tidak terdeteksi tanpa sistem pemantauan yang memadai. Pemantauan deformasi dilakukan dengan mengamati perubahan posisi titik pantau dalam kurun waktu tertentu. Teknologi Robotic Total Station (RTS) mampu menghasilkan data dengan ketelitian tinggi dan mendukung pengamatan secara kontinu. Sejak tahun 2024, PT Leica Geosystems telah melakukan pemantauan Bendungan Batutegi menggunakan RTS Leica TM60 yang terintegrasi dengan perangkat lunak GeoMoS. Namun demikian, hasil pemantauan masih belum mencakup analisis deformasi secara komprehensif yang meliputi uji statistik dan karakteristik pergeseran titik pantau. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis deformasi titik pantau secara komprehensif guna mengetahui ketelitian koordinat hasil Hitung Kuadrat Terkecil (HKT) metode parameter serta nilai dan arah vektor pergeseran untuk mengetahui karakteristik pola pergeseran Bendungan Batutegi.
Penelitian dilaksanakan di Bendungan Batutegi, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung dengan data sekunder berupa hasil pengukuran RTS pada 20 titik pantau. Data pengukuran mencakup sudut horizontal, sudut vertikal, jarak datar, dan jarak miring hasil pengamatan pada 13 kala pengamatan pada Oktober 2024 s.d. Maret 2025 dan Juni 2025 s.d. Desember 2025. Perhitungan data dilakukan dengan HKT metode parameter menggunakan perangkat lunak MATLAB untuk memperoleh koordinat hasil perataan dan ketelitiannya pada setiap kala pengamatan. Pengolahan data juga didukung oleh Microsoft SQL Server Management Studio, QGIS, dan Microsoft Excel. Tahapan penelitian meliputi persiapan data, perhitungan HKT, analisis deformasi, uji statistik, serta analisis nilai dan arah vektor pergeseran.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa koordinat titik pantau memiliki ketelitian komponen horizontal sebesar 4 s.d. 18 cm dan komponen vertikal sebesar 0,3 s.d. 1,6 cm. Uji statistik global menunjukkan seluruh kala pengamatan bebas dari kesalahan kasar, sedangkan analisis kesebangunan jaring menunjukkan bahwa meskipun terjadi perubahan bentuk jaring pada beberapa interval pengamatan, secara umum kondisi jaring masih stabil. Uji pergeseran dan uji signifikansi menunjukkan bahwa beberapa titik pantau mengalami pergeseran, namun tidak seluruhnya signifikan secara statistik. Analisis vektor pergeseran menunjukkan bahwa seluruh titik pantau mengalami pergeseran horizontal dominan ke arah barat laut pada azimut 307,230° s.d. 325,344° dan pergeseran vertikal ke bawah. Besarnya pergeseran horizontal berkisar antara 4,5 s.d. 15,9 cm, sedangkan pergeseran vertikal berkisar antara 0,1 s.d. 4,3 cm. Secara keseluruhan, deformasi yang terjadi masih relatif kecil, didominasi oleh pergeseran horizontal selama pengamatan Oktober 2024 hingga Desember 2025.
A dam is a structure constructed to retain and store water for various purposes, including irrigation, hydroelectric power generation, and flood control. The Batutegi Dam is one of the largest dams in Indonesia, with construction beginning in 1994 and official inauguration in 2004 in Lampung Province. Continuous safety monitoring is required because dams are susceptible to deformation, such as settlement, internal erosion, and cracking, caused by static and dynamic loads. These effects are cumulative and often difficult to detect without an adequate monitoring system. Deformation monitoring is conducted by observing positional changes of monitoring points over time. Robotic Total Station (RTS) technology provides high-precision measurements and supports continuous monitoring. Since 2024, PT Leica Geosystems has monitored the Batutegi Dam using a Leica TM60 RTS integrated with the GeoMoS software. However, the monitoring results have not yet included a comprehensive deformation analysis incorporating statistical testing and displacement characteristics of monitoring points. Therefore, this study was conducted to comprehensively analyze deformation at monitoring points in order to determine the coordinate accuracy obtained from the Least Squares Adjustment (LSA) parameter method, as well as the magnitude and direction of displacement vectors to identify the deformation characteristics of the Batutegi Dam.
The study was carried out at the Batutegi Dam, Tanggamus Regency, Lampung Province, using secondary data from RTS measurements at 20 monitoring points. The observations consisted of horizontal angles, vertical angles, horizontal distances, and slope distances collected over 13 observation epochs from October 2024 to March 2025 and from June 2025 to December 2025. Data processing was performed using the parameter-based LSA method in MATLAB to obtain adjusted coordinates and their accuracies for each observation epoch. Additional processing was supported by Microsoft SQL Server Management Studio, QGIS, and Microsoft Excel. The research stages included data preparation, LSA computation, deformation analysis, statistical testing, and displacement vector analysis.
The results indicate that the monitoring point coordinates achieved horizontal accuracies ranging from 4 to 18 cm and vertical accuracies ranging from 0.3 to 1.6 cm. Global statistical tests showed that all observation epochs were free from gross errors, while network congruency analysis indicated that although network shape changes occurred during several observation intervals, the network was generally stable. Displacement and significance tests revealed that several monitoring points experienced displacement; however, not all displacements were statistically significant. Displacement vector analysis showed that all monitoring points experienced predominantly horizontal movement toward the northwest, with azimuths ranging from 307.230° to 325.344°, accompanied by downward vertical displacement. Horizontal displacements ranged from 4.5 to 15.9 cm, whereas vertical displacements ranged from 0.1 to 4.3 cm. Overall, the observed deformation was relatively small and was dominated by horizontal displacement during the monitoring period from October 2024 to December 2025.
Kata Kunci : Bendungan Batutegi, RTS, HKT, analisis deformasi, uji statistik