Developmentalism to Neoliberalism: The Role of the IMF in the Premature Deindustrialization in Indonesia's Textile Industry (1999-2007)
Athaillah Arkan Triwahyu, Dr. Dedy Permadi, S.I.P., M.A.
2026 | Skripsi | Ilmu Hubungan InternasionalPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan sebab-akibat antara kesepakatan yang dibuat oleh Pemerintah Indonesia dengan Dana Moneter Internasional (IMF) dalam perumusan kebijakan pembangunan dan industri pada periode 1999–2007, yang berkontribusi terhadap deindustrialisasi prematur pada industri tekstil Indonesia. Deindustrialisasi prematur—yang didefinisikan sebagai fenomena penurunan kinerja sektor manufaktur di negara berkembang sebelum sektor tersebut sempat berkembang sepenuhnya—bertentangan dengan pemahaman umum sebelumnya yang menyatakan bahwa deindustrialisasi merupakan konsekuensi alami dari tahapan perkembangan tertentu dalam sektor manufaktur. Dalam konteks Indonesia, deindustrialisasi prematur terjadi setelah Krisis Keuangan Asia yang memicu krisis moneter tahun 1997–1998. Sebelum Krisis Keuangan Asia, Indonesia menjalankan program pertumbuhan berbasis manufaktur yang diarahkan oleh negara. Salah satu industri yang berkembang pada periode tersebut adalah industri tekstil, yang mulai tumbuh pesat dan menjadi sektor penting sejak tahun 1970-an. Namun, sejumlah kebijakan pada akhirnya menyebabkan terjadinya deindustrialisasi prematur pada industri tekstil. Penelitian ini mencapai tujuannya dengan menggunakan konsep negara pembangunan (developmental state) dan negara neoliberal dari David Harvey untuk menjelaskan perilaku negara Indonesia sebelum dan sesudah krisis moneter, serta mengoperasionalkan penelitian melalui metode process tracing yang bersifat menguji teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan-kebijakan yang berkontribusi terhadap deindustrialisasi prematur di industri tekstil merupakan dampak dari kesepakatan yang dibuat antara Pemerintah Indonesia dan Dana Moneter Internasional.
This thesis aims to study the causal relationship between arrangements made by the Government of Indonesia with the International Monetary Fund in creating developmental and industrial policies from 1999–2007 that contribute to premature deindustrialization in the Indonesian textile industries. Defined as a phenomenon where developing countries begin to have their manufacturing sector decline in performance before it begins to develop, premature deindustrialization contradicts previous knowledge establishing that deindustrialization happens as a natural consequence of a certain stage of development in the manufacturing sector. Investigating into the case of Indonesia, premature deindustrialization occurred after the Asian Financial Crisis that further caused the 1997–1998 monetary crisis. Before the Asian Financial Crisis, Indonesia underwent state-commanded programmes of manufacturing-led growth. One of the industries that grew during this period was the textile industry, which began to grow into prominence in the 1970s. However, several policies eventually resulted in the premature deindustrialization in the textile industry. This study accomplishes its aim by utilizing David Harvey's concepts of developmental and neoliberal states to explain the state behavior posed by Indonesia before and after the monetary crisis, while operationalizing the research using theory-testing process tracing method. The research reveals that the policies that contribute to the premature deindustrialization in the textile industry are a result of the arrangements made between the Government of Indonesia and the International Monetary Fund.
Kata Kunci : deindustrialisasi prematur, International Monetary Fund, negara neoliberal, negara pembangunan, spatial fix