Pendapatan petani dan penyerapan tenaga kerja pemanen rotan sebelum dan sesudah Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI tentang pengaturan ekspor rotan :: Studi kasus di Kelurahan Mengkatip Kecamatan Dusun Hilir Kabupaten Barito Selatan Provinsi Kalimantan tengah
ADRIANSYAH, Prof.Dr. Dibyo Prabowo, M.Sc
2005 | Tesis | Magister Ekonomika PembangunanPenelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang keadaan produksi, distribusi dan pemasaran komoditas rotan terutama dalam bentuk mentah dan Rotan Biji/Batangan, keadaan pendapatan petani pemanen rotan dan penyerapan tenaga kerja dalam kegiatan pemanenan rotan di Kelurahan Mengkatip Kecamatan Dusun Hilir Kabupaten Barito Selatan Provinsi Kalimantan Tengah sebagai dampak Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI Nomor: 355/MPP/Kep/5/2004 tanggal 27 Mei 2004 tentang Pengaturan Ekspor Rotan. Metode yang digunakan untuk mencapai tujuan pertama adalah metode deskriptif kualitatif, sedangkan untuk tujuan kedua digunakan metode deskriptif kuantitatif yaitu analisis statistik dengan uji beda dua rata-rata terhadap pendapatan petani pemanen dan penyerapan tenaga kerja dalam kegiatan pemanenan rotan sebelum dan sesudah kebijakan pemerintah tersebut. Berdasarkan analisis deskriptif kualitatif, disimpulkan bahwa Kelurahan Mengkatip Kecamatan Dusun Hilir dan Kabupaten Barito Selatan merupakan salah satu sentra budidaya rotan jenis irit dan taman di Kalimantan Tengah, rotan jenis ini merupakan komoditas penting dalam kehidupan sosial-ekonomi masyarakat setempat dan kelestarian fungsi lingkungan. Dari sisi latar belakang ditetapkannya kebijakan pemerintah tersebut di atas dan akibat yang ditimbulkannya belum mampu menempatkan produsen rotan mentah (petani) secara adil dalam hubungan bisnis yang saling menguntungkan baik secara makro maupun mikroekonomi. Secara deskriptif kuantitatif, ditunjukkan bahwa rata-rata pendapatan petani dan rata-rata jumlah tenaga kerja yang digunakan dalam kegiatan pemanenan rotan adalah menurun setelah berlakunya kebijakan pemerintah. Besarnya penurunan rata-rata pendapatan adalah Rp161.297,30 (30,84%) atau sebelumnya rata-rata sebesar Rp523.081,08 per bulan menjadi rata-rata Rp361.783,78 per bulan yang disebabkan karena terjadi penurunan harga rotan mentah di tingkat petani. Penyerapan tenaga kerja mengalami penurunan sebesar rata-rata 13 orang (41,89%) dari rata-rata 30 menjadi rata-rata 17 orang per pemilik kebun per satu kali panen, hal ini juga disebabkan oleh penurunan harga rotan mentah dan penurunan produksi panen oleh petani pemilik kebun. Implikasi hasil penelitian ini adalah bahwa kebijakan pemerintah tersebut di atas harus ditinjau kembali dalam rangka menciptakan hubungan industri hulu dan hilir komoditas rotan yang dapat memberikan insentif ekonomi secara adil. Dalam rangka meningkatkan multiplier effect pemanfaatan komoditas rotan di daerah penelitian, maka harus didukung oleh kebijakan pemerintah pusat maupun daerah untuk menumbuhkembangkan investasi pengolahan barang jadi rotan.
This objectives of the research is to describe the production, distribution, and marketing of commodity of rattan mainly in raw and round rattan, the income of rattan farmers and labor absorption in rattan harvesting in Mengkatip Village, sub-District of Dusun Hilir, District of South Barito, Province of Central Kalimantan as the impacts of Decree of Ministry of Industry and Trade No. 355/MPP/Kep/5/2004 dated May 27, 2004 concerning Regulation of Rattan Export. The method used to obtain the first objective is qualitative descriptive method, while for the second objective quantitative descriptive with statistical analysis using test of two-average difference on the income of farmers/collectors and labor absorption in rattan harvesting before and after the government policy. Based on the qualitative descriptive analysis, it is concluded that Mengkatip Village, sub-District of Dusun Hilir, District of South Barito is one of cultivated rattan producer centre (for the species of taman and irit) in Central Kalimantan, this species of rattan are classified as an important commodity in social-economy life of local people and the maintenance of environmental function. From background point of view, the legislation and implementation of the government regulation and the effect arisen had not been able to equally positioned the producers of raw rattan (farmers) in a mutualism business relationship both in macro and micro perspectives. The quantitative descriptive analysis shows that the average income of the farmers and the average number of labor employed in rattan harvesting are different from the period prior to the implementation of the government regulation, which resulted in decrease in the two variables. The decrease of the
Kata Kunci : Pendapatan Petani, Kebijakan Pemerintah, Harga