Risiko Produksi dan Strategi Pengelolaan Usaha Tani Bawang Merah Semiorganik Kalurahan Selopamioro Kapanewon Imogiri Kapanewon Imogiri Kabupaten Bantul
Amilia Devica Sari, Gilang Wirakusuma S. P., M. Sc.; Pinjung Nawang Sari S. P., M. Sc
2026 | Skripsi | SOS.EK. PERTANIAN (AGROBISNIS)
Bawang merah di Kalurahan
Selopamioro merupakan salah satu komoditas hortikultura unggulan yang dibudidayakan
secara semiorganik dan memiliki branding bawang merah Glowing. Produksi
bawang merah di wilayah tersebut menunjukkan ketidakstabilan hasil yang memicu risiko
produksi bagi petani. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor
yang berpengaruh terhadap produksi, tingkat risiko produksi yang dihadapi
petani, faktor-faktor produksi yang berpengaruh terhadap risiko, sikap petani
terhadap risiko, serta strategi pengelolaan risiko bawang merah semiorganik di
Kalurahan Selopamioro. Penelitian ini dilakukan terhadap 46 petani bawang merah
semiorganik dengan teknik convenience sampling. Metode analisis yang
digunakan yaitu fungsi produksi Cobb-Douglas untuk mengetahui faktor-faktor
yang berpengaruh terhadap produksi, mengukur tingkat risiko menggunakan koefisien
variasi (CV) fungsi risiko produksi Just and Pope untuk mengetahui
faktor produksi yang berpengaruh terhadap risiko produksi, parameter keengganan
risiko (K(S)) digunakan untuk melihat sikap petani terhadap risiko produksi,
serta strategi berdasarkan fase terjadinya risiko dengan membandingkan nilai CV
produksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) faktor yang dapat
meningkatkan produksi antara lain luas, benih, pupuk kandang, pestisida, dan
faktor menurunkan produksi adalah tenaga kerja; (2) tingkat risiko produksi
usaha tani bawang merah semiorganik tergolong tinggi; (3) faktor produksi yang
berpengaruh terhadap risiko yaitu luas lahan, benih, dan tenaga kerja; (4)
sikap petani terhadap risiko produksi adalah risk averse (menghindari
risiko); dan (5) petani melakukan strategi pengelolaan risiko sebelum risiko
terjadi (ex-ante) saat risiko terjadi (interactive) dan setelah
terjadi risiko (ex-post) dengan strategi yang menunjukkan risiko lebih
rendah yaitu diskusi kelompok, melakukan penyesuaian pupuk sesuai kondisi musim
budidaya, dan dukungan modal keluarga.
Shallot in Selopamioro Village is one of the leading
horticultural commodities cultivated using a semi-organic system and marketed
under the Glowing shallot brand. Shallot production in this region
shows unstable yields that trigger production risk for farmers. This study aims
to analyze the factors influencing production, the level of production risk
faced by farmers, the production factors influencing risk, farmers' attitudes
toward risk, and risk management strategies for semi-organic shallots in Selopamioro
Village. This research was conducted on 46 semi-organic shallot farmers using a
convenience sampling technique. The analytical methods used were the
Cobb-Douglas production function to determine the factors influencing
production, the coefficient of variation (CV) to measure the level of risk, the
Just and Pope production risk function to determine the production factors
influencing production risk, the risk aversion parameter (K(S)) to examine
farmers' attitudes toward production risk, and strategies based on the phase of
risk occurrence by comparing production CV values. The results show that: (1)
the factors that can increase production include land area, seed, manure, and
pesticide, while the factor that decreases production is labor; (2) the level
of production risk in semi-organic shallot farming is classified as high; (3)
the production factors influencing risk are land area, seed, and labor; (4)
farmers' attitude toward production risk is risk-averse; and (5) farmers
implement risk management strategies before the risk occurs (ex-ante) while the
risk is occurring (interactive) and after the risk has occurred (ex-post) with
the strategies showing lower risk being group discussion, adjusting fertilizer
according to the growing season conditions, and family capital support.
Kata Kunci : bawang merah semiorganik, produksi, risiko, sikap petani, strategi pengelolaan.