Analisis Komparatif Kinerja Keuangan Perusahaan BUMN dan Swasta pada Industri Pertambangan Batu Bara: Studi pada PT Bukit Asam Tbk dan PT Adaro Energi Indonesia Tbk Periode 2019-2023
Yunindra Al Bastomi, Dr Sumirah, M.Si.
2026 | Tugas Akhir | D4 Akuntansi Sektor Publik
Industri pertambangan batu bara Indonesia, yang didominasi oleh fluktuasi harga komoditas dan dihuni oleh perusahaan BUMN dan swasta, menghadirkan dinamika kinerja keuangan yang kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kinerja keuangan PT Bukit Asam Tbk (BUMN) dan PT Adaro Energy Indonesia Tbk (swasta) serta menganalisis faktor-faktor pembentuknya selama periode 2019-2023. Menggunakan pendekatan deskriptif komparatif dengan data sekunder dari laporan keuangan auditan dan Harga Batu Bara Acuan (HBA), analisis dilakukan pada common size laporan laba rugi, rasio profitabilitas, dan laba per ton penjualan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keunggulan kinerja bersifat dinamis mengikuti siklus harga PTBA lebih unggul pada fase harga rendah (2019-2020) dengan stabilitas yang lebih baik, sementara ADRO menunjukkan keunggulan signifikan pada fase pemulihan, windfall, dan normalisasi (2021-2023) karena kemampuannya memanfaatkan kenaikan harga. Temuan ini mengonfirmasi bahwa skala produksi yang lebih besar tidak otomatis menghasilkan profitabilitas lebih tinggi, dan perbedaan kinerja dapat dijelaskan melalui Teori Keagenan, di mana orientasi ganda BUMN mendorong stabilitas defensif, sedangkan orientasi tunggal swasta pada maksimalisasi nilai pemegang saham mendorong fleksibilitas dan responsivitas pasar yang lebih besar.
The Indonesian coal mining industry, characterized by volatile commodity prices and the presence of both state-owned and private enterprises, presents a complex dynamic in financial performance. This study aims to compare the financial performance of PT Bukit Asam Tbk (SOE) and PT Adaro Energy Indonesia Tbk (private) and analyze its underlying determinants during the 2019-2023 period. Using a descriptive-comparative approach with secondary data from audited financial statements and the Indonesian Coal Reference Price (HBA), the analysis focuses on revenue structure, cost structure, profitability ratios, and profit per ton of sales. The results show that performance superiority is dynamic and follows the price cycle: PTBA excelled in the low-price phase (2019-2020) with better stability, while ADRO demonstrated significant superiority in the recovery, windfall, and normalization phases (2021-2023) due to its ability to capitalize on rising prices. These findings confirm that a larger production scale does not automatically generate higher profitability. Furthermore, the performance differences can be explained by Agency Theory, where the dual mandate of an SOE drives defensive stability, whereas the single-minded orientation of a private firm toward shareholder value maximization drives greater flexibility and market responsiveness.
Kata Kunci : Kinerja,Keuangan,BUMN,Swasta,Batu,bara