Laporkan Masalah

Interdependensi Kepentingan Indonesia-Jepang dalam Kerja Sama Energi Bilateral

Dyah Niken Rahmawati, Dra. Maharani Hapsari

2026 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional

Dinamika transisi energi global dan perubahan lanskap geopolitik kawasan Indo-Pasifik mendorong penguatan kerja sama energi antara Indonesia dan Jepang dalam satu dekade terakhir. Skripsi ini menganalisis pola relasi Indonesia-Jepang dalam kerja sama energi bilateral dengan menggunakan kerangka teori interdependensi kompleks dari Robert O. Keohane dan Joseph S. Nye (1977). Penelitian ini berangkat dari pertanyaan mengenai bagaimana pola relasi kedua negara terbentuk dan dikelola dalam ketergantungan yang tidak sepenuhnya seimbang.
Secara empiris, Jepang berperan sebagai penyedia teknologi pembangkit, transfer pengetahuan, serta sumber pembiayaan proyek infrastruktur energi melalui skema pinjaman dan kerja sama pembangunan. Sebaliknya, Indonesia memiliki posisi strategis sebagai negara dengan sumber daya energi yang signifikan, pasar domestik yang besar, serta lokasi geopolitik yang penting di Asia Tenggara. Ketimpangan kapasitas teknologi, finansial, dan kemampuan diversifikasi energi menunjukkan adanya interdependensi bersifat asimetris.
Dengan menggunakan metode kualitatif berbasis studi kasus dan analisis dari laporan resmi pemerintah dan lembaga internasional, penelitian ini menemukan bahwa pola relasi energi Indonesia-Jepang mencerminkan interdependensi asimetris yang terinstitusionalisasi dan dinegosiasikan secara berkelanjutan. Meskipun distribusi kapasitas tidak seimbang, kedua negara tetap mempertahankan kerja sama karena didorong oleh rasionalitas ekonomi, kepentingan strategis kawasan, serta kebutuhan menjaga stabilitas dan keberlanjutan energi.

The dynamics of the global energy transition and the evolving geopolitical landscape of the Indo-Pacific have driven the strengthening of energy cooperation between Indonesia and Japan over the past decade. This thesis examines the pattern of Indonesia–Japan relations in bilateral energy cooperation by employing the theory of complex interdependence developed by Robert O. Keohane and Joseph S. Nye (1977). The study is guided by the question of how the relationship between the two countries has been formed and managed within a framework of dependence that is not entirely balanced.

Empirically, Japan serves as a provider of power generation technology, knowledge transfer, and financial support for energy infrastructure projects through loan schemes and development cooperation. In contrast, Indonesia occupies a strategic position as a country endowed with abundant energy resources, a large domestic market, and a significant geopolitical location in Southeast Asia. The disparity in technological capabilities, financial capacity, and energy diversification demonstrates the existence of an asymmetric interdependence between the two countries.

Using a qualitative case study approach and analysis of official government reports and publications from international organizations, this research finds that the pattern of Indonesia–Japan energy relations reflects an institutionalized form of asymmetric interdependence that is continuously negotiated. Although the distribution of capabilities remains unequal, both countries continue to sustain their cooperation, driven by economic rationality, regional strategic interests, and the shared need to maintain energy security, stability, and sustainability.

Kata Kunci : interdependensi asimetris, kerja sama energi, Indonesia, Jepang, politik energi, negosiasi

  1. S1-2026-443076-abstract.pdf  
  2. S1-2026-443076-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-443076-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-443076-title.pdf