Perkembangan Kelembagaan KTH Wanapaksi dalam Program Konservasi Burung di Desa Jatimulyo, Kabupaten Kulon Progo
Shabrina, Dr. Ir. Much. Taufik Tri Hermawan, S. Hut., M. Si., IPU.
2026 | Skripsi | KEHUTANAN
Indonesia memiliki keanekaragaman burung yang tinggi, namun menghadapi ancaman perburuan dan kerusakan habitat sehingga diperlukan konservasi berbasis masyarakat. Desa Jatimulyo di Kabupaten Kulon Progo dikenal sebagai Desa Ramah Burung melalui Peraturan Desa No. 8 Tahun 2014 yang melarang perburuan burung, dengan KTH Wanapaksi sebagai penggerak utama konservasi dan ekowisata berbasis masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat perkembangan kelembagaan KTH Wanapaksi serta menentukan prioritas pengelolaan untuk peningkatan kelembagaan dalam program konservasi burung di Desa Jatimulyo.
Untuk mengetahui tingkat perkembangan KTH Wanapaksi sebagai lembaga pengelola program konservasi burung di Desa Jatimulyo, dilakukan observasi lapangan dan penilaian menggunakan matriks Institutional Development Framework (IDF). Pendekatan ini digunakan untuk memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai kondisi kelembagaan secara aktual. Melalui metode IDF, perkembangan KTH Wanapaksi dinilai berdasarkan 39 komponen kunci yang terbagi ke dalam 6 sumber daya kelembagaan, sehingga hasil penilaian dapat digunakan sebagai dasar dalam mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, serta kebutuhan pengembangan kelembagaan ke depan.
Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat perkembangan kelembagaan KTH Wanapaksi berada pada kategori cukup baik dengan nilai Indeks IDF sebesar 3,02 yang menandakan bahwa organisasi sudah memiliki kapasitas untuk mempertahankan eksistensinya menuju tahap kemandirian, namun masih memerlukan peningkatan kinerja pada beberapa aspek prioritas. Berdasarkan grafik sasaran prioritas yang diperoleh dari nilai bobot dan tingkat perkembangan masing-masing komponen kunci, penguatan kelembagaan perlu diarahkan pengembangan sumber daya manusia, perluasan jejaring kemitraan eksternal, serta pengembangan produk dan jasa berbasis konservasi. Upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan efektivitas pengelolaan program konservasi burung di Desa Jatimulyo secara berkelanjutan.
Indonesia is one of the countries with the highest bird diversity in the world. However, increasing threats such as bird hunting and habitat degradation have highlighted the need for community-based conservation approaches. Jatimulyo Village in Kulon Progo Regency is widely recognized as a “Bird-Friendly Village” following the enactment of Village Regulation No. 8 of 2014, which prohibits bird hunting. In this initiative, the Forest Farmer Group (KTH) Wanapaksi serves as the primary institution driving bird conservation and community-based ecotourism. This study aimed to assess the institutional development level of KTH Wanapaksi and to determine management priorities for strengthening its institutional capacity in supporting bird conservation programs in Jatimulyo Village.
To evaluate the institutional development of KTH Wanapaksi as the managing organization of the bird conservation program, field observations and assessments were conducted using the Institutional Development Framework (IDF). This approach was employed to obtain a comprehensive understanding of the institution’s current condition. Through the IDF method, the development level of KTH Wanapaksi was assessed based on 39 key components grouped into six institutional resource categories. The assessment results were then used to identify institutional strengths, weaknesses, and future development needs.
The results showed that the institutional development level of KTH Wanapaksi was categorized as good, with an IDF Index score of 3.02. This indicates that the organization has developed sufficient capacity to sustain its existence and move toward greater independence, although improvements are still needed in several priority areas. Based on the priority profile generated from the weighting and development scores of each key component, institutional strengthening should focus on human resource development, the expansion of external partnership networks, and the enhancement of conservation-based products and services. These efforts are expected to improve the effectiveness and long-term sustainability of bird conservation management in Jatimulyo Village.
Kata Kunci : Institutional Development Framework (IDF), konservasi berbasis masyarakat, prioritas pengelolaan, sumber daya kelembagaan ; Institutional Development Framework (IDF), community-based conservation, management priorities, institutional resources