Laporkan Masalah

Konsep pendidikan inklusi menurut perspektif filsafat pendidikan Ki Hajar Dewantara

Dio Irawan Adi Pratama, Fitri Alfariz, S.Fil., M.Phil,.

2026 | Skripsi | ILMU FILSAFAT

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan teori Ki Hajar Dewantara tentang tripusat pendidikan yang sangat tepat dikembangkan di dalam keluarga, masyarakat dan sekolah. Pendidikan keluarga sangat penting, apalagi ketika anak masih dalam kandungan hingga usia pra sekolah. Pendidikan keluarga lebih banyak menggunakan metode tauladan. Apa yang dilakukan anggota keluarga, akan ditiru oleh sang anak. Tidak hanya teladan, namun juga arahan, himbauan dan larangan. Masyarakat juga menjadi pusat pendidikan. Setelah seorang anak lahir ke dunia, dia tidak hanya berinteraksi dengan keluarganya, tetapi juga lingkungan sekitar yang salah satunya adalah masyarakat. Adat kebiasaan di masyarakat akan mempengaruhi tumbuh kembang anak. Selain itu, ketika anak sudah mulai bermain di luar, dia akan banyak berinteraksi dengan masyarakat. Di situlah anak belajar tentang kehidupan di luar keluarga. Demikian juga dengan sekolah sebagai sarana pengembangan potensi manusia agar mampu menjalankan tugasnya dan memposisikan diri di masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan tiga tahap. Tahap pertama adalah mengumpulkan data dan sumber-sumber kepustakaan yang berkaitan dengan topik penelitian, termasuk pendidikan karakter dan pendidikan secara umum, khususnya pemikiran tentang pendidikan karakter menurut Ki Hajar Dewantara dan pendidikan inklusi. Tahap kedua melibatkan pengelompokkan dan pengklasifikasian data yang telah dikumpulkan. Langkah ketiga adalah menganalisis data yang sudah dikelompokkan menggunakan metode penelitian dalam bidang filosofi. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa konsep pemikiran Ki Hajar Dewantara memberikan dasar yang kuat bagi pengembangan pendidikan inklusi di Indonesia. Pendidikan inklusi harus berpihak pada anak, memberikan kesempatan yang sama bagi setiap anak, menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan ramah, serta mendorong anak untuk belajar secara mandiri dan sesuai dengan potensi mereka. Dengan adanya sekolah inklusi ini merupakan salah satu bentuk pemerataan dan bentuk perwujudan pendidikan tanpa diskriminasi dimana anak berkebutuhan khusus dan anak-anak pada umumnya dapat memperoleh pendidikan yang sama. Pendidikan inklusi merupakan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang mensyaratkan agar semua anak berkebutuhan khusus dapat menerima pendidikan yang setara dikelas biasa bersama teman-teman usianya. Selama ini anak – anak yang memiliki perbedaan kemampuan (difabel) disediakan fasilitas pendidikan khusus disesuaikan dengan derajat dan jenis difabelnya yang disebut dengan Sekolah Luar Biasa (SLB). Pendidikan merupakan kewajiban bagi seluruh umat. Proses pendidikan dimulai dari buaian hingga ke liang lahat.

This research aims to explore Ki Hajar Dewantoro's theory about the tripartite education that is very suitable to be developed within the family, community, and school. Family education is very important, especially when the child is still in the womb up to preschool age. Family education mostly uses exemplary methods. What family members do will be imitated by the child. Not only examples but also guidance, appeals, and prohibitions. The community also serves as a central educational institution. After a child is born into the world, they not only interact with their family but also with their surrounding environment, one of which is the community. The customs in the community will influence the child's growth and development. Moreover, when children start playing outside, they will interact a lot with the community. That is where children learn about life outside the family. Similarly, schools serve as a means of developing human potential so that they can fulfill their duties and responsibilities. The research method used is library research with three stages. The first stage is collecting data and library sources related to the research topic, including character education and education in general, specifically the thoughts on character education according to Ki Hajar Dewantara and inclusive education. The second stage involves grouping and classifying the collected data. The third stage is analyzing the grouped data using research methods in the field of philosophy. The result of this research is that the educational thought concept of Ki Hajar Dewantara provides a strong foundation for the development of inclusive education in Indonesia. Inclusive education must favor children, providing equal opportunities for every child, creating an inclusive and friendly learning environment, and encouraging children to learn independently according to their potential. The existence of inclusive schools is one form of equity and a manifestation of education without discrimination where children with special needs and typical children can receive the same education. Inclusive education is a form of special education service that requires all children with special needs to receive an equal education in regular classrooms alongside their peers of the same age. So far, children with differing abilities (disabled) have been provided with special education facilities tailored to their degree and type of disability, known as Special Schools (SLB). Education is an obligation for all people. The process of education begins from the cradle to the grave. 

Kata Kunci : layanan sekolah inklusi, Tripusat Pendidikan, sekolah inklusi

  1. S1-2026-444965-abstract.pdf  
  2. S1-2026-444965-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-444965-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-444965-title.pdf