Kearifan Lokal Dan Ekoteologi Dalam Pengelolaan Hutan Kampung Adat Dukuh Kabupaten Garut
Dyandra Yazid Syaibani, Prof. Dr. Ir. San Afri Awang, M.Sc
2026 | Skripsi | KEHUTANAN
Kerusakan hutan tropis global terus meningkat, salah satunya diakibatkan oleh cara pandang antroposentris yang memisahkan manusia dari alam. Kampung Adat Dukuh di Desa Ciroyom, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat merupakan komunitas adat yang masih mempertahankan sistem pengelolaan hutan berbasis kearifan lokal, namun kajian mendalam mengenai keterkaitan kearifan lokal dan nilai religius sebagai kerangka ekoteologi dalam pengelolaan hutan tersebut masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan bentuk kearifan lokal masyarakat Kampung Adat Dukuh dalam pengelolaan dan pelestarian hutan, dan (2) menjelaskan nilai religius dan kosmologi masyarakat Dukuh serta bagaimana keduanya membentuk kerangka ekoteologi dalam menjaga kohesi sosial dan keberlanjutan pengelolaan hutan.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi Spradley (1979), meliputi observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan tujuh informan kunci, serta studi dokumen. Data dianalisis melalui tahapan Developmental Research Sequence (DRS) berupa analisis domain, taksonomi, komponensial, dan tema budaya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kearifan lokal masyarakat Dukuh terwujud dalam sistem pengelolaan hutan lestari berbasis masyarakat yang mengintegrasikan dimensi ekologis, sosial, dan spiritual, meliputi pembagian kawasan hutan ke dalam lima leuweung (Tutupan, Titipan, Garapan, Larangan, dan Cadangan), penerapan pamali sebagai kontrol sosial, kalender adat, serta prinsip pemanfaatan hasil hutan yang menekankan penanaman kembali dan pembagian hasil secara adil. Praktik tersebut dibangun di atas kerangka ekoteologi yang memadukan nilai Tauhid, Khalifah, dan Akhlak dalam identitas Adat Islami, yang memperkuat kepatuhan masyarakat terhadap norma konservasi hutan melalui internalisasi nilai religius. Penelitian ini menegaskan bahwa kearifan lokal dan ekoteologi merupakan dua unsur yang tidak terpisahkan dalam pengelolaan hutan adat Dukuh.
Deforestation continues to intensify worldwide, driven in part by an anthropocentric worldview that positions humans as separate from, rather than part of, nature. Kampung Adat Dukuh, located in Ciroyom Village, Cikelet Subdistrict, Garut Regency, West Java, is an indigenous community that still upholds a forest management system rooted in local wisdom. However, in-depth studies examining how local wisdom and religious values intertwine to form an ecotheological framework in forest management remain scarce. This study therefore aims to (1) describe the forms of local wisdom practiced by the Dukuh indigenous community in managing and conserving their forest, and (2) explain how the community's religious values and cosmology converge into an ecotheological framework that sustains both social cohesion and the continuity of forest management.
This qualitative study adopts Spradley's (1979) ethnographic approach, combining participatory observation, in-depth interviews with seven informants, and document study. Data were analyzed using the Developmental Research Sequence (DRS), encompassing domain, taxonomic, componential, and cultural-theme analysis.
The findings reveal that the Dukuh community's local wisdom manifests in a community-based, sustainable forest management system that integrates ecological, social, and spiritual dimensions. This includes the division of forest land into five leuweung zones (Tutupan, Titipan, Garapan, Larangan, and Cadangan), the use of pamali as a mechanism of social control, adherence to a customary calendar, and resource-use principles centered on replanting and equitable distribution of yields. These practices are underpinned by an ecotheological framework that weaves together the values of Tauhid, Khalifah, and Akhlak within an Islamic-customary (Adat Islami) identity — a framework that reinforces community compliance with conservation norms through the internalization of religious values. The study concludes that local wisdom and ecotheology are inseparable, mutually reinforcing elements within the Dukuh indigenous forest management system.
Kata Kunci : kearifan lokal, ekoteologi, pengelolaan hutan, masyarakat adat, etnografi.; local wisdom, ecotheology, forest management, indigenous communities, ethnography.