Kerentanan Mahasiswa Kelas Menengah Bawah dalam Pendidikan Tinggi Studi Tentang Individualisasi Risiko dalam Konteks Masyarakat Risiko dan Neoliberalisme Pendidikan di Kota Yogyakarta
Lenny Aurelia Amilia, Dr. Drs. Suharman, M.Si.
2026 | Skripsi | Sosiologi
Selama ini kebijakan sosial mengenai kerentanan sosial dan ekonomi di Indonesia masih cenderung terbatas pada kelompok miskin yang secara sosial dan ekonomi berada pada kondisi rentan. Kerentanan pada kelompok ini sudah terdokumentasi secara luas dalam pelbagai studi dan menjadi perhatian dalam pelbagai intervensi kebijakan. Akan tetapi, kondisi tersebut cenderung masih menyisakan ruang yang belum banyak dieksplorasi, terutama terkait dengan pengalaman kerentanan pada kelompok kelas menengah bawah. Keterbatasan dan kerentanan yang tidak selalu dapat direkognisi melalui indikator-indikator kerentanan dan administratif membuat pengalaman kerentanan pada kelompok ini kurang mendapat perhatian. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang bertujuan untuk menggali persepsi mahasiswa kelas menengah bawah mengenai risiko penurunan kelas serta tantangan biaya pendidikan pada mahasiswa kelas menengah di Kota Yogyakarta. Penelitian ini dianalisis menggunakan teori masyarakat risiko dari Ulrich Beck serta konsep neoliberalisme dalam pendidikan tinggi. Temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kerentanan pada mahasiswa kelas menengah bawah termanifestasi dalam bentuk keterbatasan akses dalam pembiayaan pendidikan tinggi, tekanan ekonomi dalam pembiayaan studi maupun pembiayaan hidup, serta tuntutan untuk melakukan pencarian penghasilan tambahan dan aktivitas pengembangan diri. Kondisi ini merupakan implikasi dari meningkatnya gelombang individualisasi, kompetisi, dan intervensi dari logika neoliberalisme dalam konteks pendidikan tinggi. Semua aspek kerentanan ini menimbulkan individualisasi risiko sebagai strategi yang dilakukan oleh individu dalam menegosiasi dan mengelola aspek kerentanannya secara mandiri. Kondisi ini juga merupakan implikasi dari melemahnya intervensi negara dalam mengelola risiko sosial dan ekonomi yang dialami oleh mahasiswa kelas menengah bawah. Oleh karena itu, temuan dalam penelitian ini tidak hanya mencerminkan persoalan individual, tetapi juga menunjukkan urgensitas dari peran negara serta akses yang lebih setara terhadap pelbagai sumber daya yang dibutuhkan dalam menunjang keberlangsungan pendidikan tinggi pada mahasiswa kelas menengah bawah.
Social policies addressing social and economic vulnerability in Indonesia have thus far tended to focus on people living in poverty, who are socially and economically recognized as vulnerable. The vulnerabilities experienced by this group have been extensively documented in numerous studies and have become the focus of various policy interventions. Nevertheless, this situation has left a considerable gap that remains underexplored, particularly regarding the experiences of vulnerability among the lower middle class. The limitations and vulnerabilities experienced by this group are not always recognized through conventional vulnerability indicators and administrative criteria, resulting in their experiences receiving relatively little attention. This study employed a qualitative method with a phenomenological approach to explore lower-middle-class university students' perceptions of the risk of downward social mobility and the challenges of financing higher education in Yogyakarta. The study was analysed using Ulrich Beck's Risk Society theory and the concept of neoliberalism in higher education. The findings indicate that the vulnerabilities experienced by lower-middle-class students are manifested in limited access to higher education financing, economic pressures associated with both educational expenses and daily living costs, as well as increasing demands to seek additional sources of income and engage continuously in self-development activities. These conditions are the result of growing individualisation, intensified competition, and the increasing influence of neoliberalism within the context of higher education. Collectively, these dimensions of vulnerability give rise to the individualisation of risk, whereby individuals are required to negotiate and manage their vulnerabilities independently. This condition also reflects the weakening role of the state in managing the social and economic risks experienced by lower-middle-class students. Therefore, the findings of this study suggest that these vulnerabilities should not be understood merely as individual problems, but also as structural issues that underscore the urgency of stronger state intervention and more equitable access to the various resources required to support lower-middle-class students in sustaining their higher education.
Kata Kunci : Kelas Menengah Bawah; Kerentanan; Individualisasi Risiko; Masyarakat Risiko, Neoliberalisme Pendidikan Tinggi