Pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan PDRB antar kecamatan di Kabupaten Kotawaringin Timur Provinsi Kalimantan Tengah, 1997-2002
HUTAGALUNG, Pimpin, Dr. Budiono Sri Handoko, MA
2005 | Tesis | Magister Ekonomika PembangunanPembangunan ekonomi menciptakan pertumbuhan yang setinggi-tingginya, serta mengurangi kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan pendapatan masyarakat seperti yang dikenal dampak merembes kebawah. Di negara-negara sedang berkembang, perhatian utama terfokus pada dilema kompleks antara pertumbuhan versus distribusi pendapatan. Pembangunan ekonomi mensyaratkan Produk Nasional Bruto (PNB) yang tinggi dan untuk itu tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi merupakan pilihan yang harus diambil. Pertumbuhan ekonomi berkaitan dengan peningkatan dalam produksi barang dan jasa, yang diukur dengan kenaikan Produk Nasional Bruto (PNB), tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau lebih kecil dari tingkat pertumbuhan atau apakah perubahan struktur ekonomi terjadi atau tidak, secara makro, keadaan pertumbuhan ekonomi suatu daerah lazimnya ditunjukkan oleh peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Walaupun mengandung kelemahan, namun sampai sekarang indikator ini masih tetap dilakukan. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kotawaringin Timur selama kurun waktu enam tahun dari tahun 1997-2002 rata-rata pertumbuhannya 1,27% lebih kecil dari rata-rata pertumbuhan ekonomi Kalimantan Tengah sebesar 1,31%, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kotawaringin Timur pada tahun 1998 turun sebesar 5,01% dan pada tahun 2002 turun sebesar 0,06%. Rata-rata indeks ketimpangan Williamson di Kabupaten Kotawaringin Timur tahun 1997-2002 rata-rata 0,819 dan rata-rata indeks ketimpangan entropi Theil rata-rata 0,071. Indeks Williamson maupun indeks entropi Theil dari tahun 1997-2002 cenderung mengalami kenaikan. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kotawaringin Timur dengan tipologi Klassen diperoleh empat klasifikasi yaitu daerah/kecamatan berkembang cepat, relatif tertinggal, cepat maju dan cepat tumbuh, maju tertekan, serta hipotesis Kuznet tentang kurva U terbalik terjadi di Kabupaten Kotawaringin Timur.
Economic development creates high growth and reduces poverty, unemployment and societal income imbalance known as trickle down effect. In developing countries, the main attention is focused on complex dilemma between growth versus income distribution. Economic development requires high Gross National Product (GNP) and therefore high economic growth is choice should be taken. Economic growth relates to increase in goods and service production measured by increase in Gross National Product (GNP) regardless if the increase higher or smaller than growth rate or whether or not economic structure change occur. In macro sense, economic growth of a region is commonly indicated with increase in Gross Regional Domestic Product (GRDP). Although containing weakness, the indicator is still used until now. Average economic growth of Kotawaringin Timur district for six year from 1997-2002 was 1.27; it was smaller than average economic growth of Central Kalimantan of 1.31%. Economic growth of Kotawaringin Timur district in 1998 decreased 5.015 and in 2002 decreased 0.06%. Average Williamson imbalance index in Kotawaringin Timur district in 1997-2002 was 0.819 and average Theil entropy imbalance index was 0.071. Williamson index or Theil entropy index from 1997 to 2002 tended to increase. Economic growth of Kotawaringin Timur district using Klassen Typology found four classifications of areas/subdistricts that is quick developing, relatively lag, progress fast and grow fast-suppressed progress. In addition, Kuznet hypothesis on reversed-U curve occurred in Kotawaringin Timur district
Kata Kunci : Pertumbuhan Ekonomi,Ketimpangan PDRB, Gross National Product (GNP), Imbalance, Growth