Laporkan Masalah

Pemanfaatan Media Sosial oleh Penyuluh Pertanian Wilayah Kepulauan di Kabupaten Sabu Raijua

Muhammad Faizal Alkautsar, Prof. Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D.

2026 | Skripsi | PENYULUHAN & KOMUNIKASI PERTANIAN

Penyuluhan pertanian di wilayah kepulauan menghadapi tantangan geografis dan keterbatasan infrastruktur yang signifikan, sehingga berpotensi memengaruhi penyebaran informasi dan menuntut pemanfaatan media sosial sebagai alternatif strategi komunikasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, didukung oleh pengumpulan data primer melalui wawancara mendalam, observasi, dan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan penyuluh pertanian, pejabat dinas, dan petani di Kabupaten Sabu Raijua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat literasi digital penyuluh cenderung masih berada pada level operasional dasar, dan belum mencapai tahap evaluasi kritis maupun produksi konten kreatif. Sebagian besar pemanfaatan media sosial, khususnya WhatsApp, memiliki intensitas harian yang tinggi namun praktiknya masih didominasi sebagai saluran distribusi informasi satu arah dan alat pemenuhan pelaporan administratif. Secara parsial, efektivitas penyuluhan digital terhambat oleh faktor internal seperti hambatan adaptasi teknologi pada penyuluh senior dan motivasi yang bersifat ekstrinsik, serta faktor eksternal berupa keterbatasan infrastruktur sinyal internet, rendahnya literasi digital petani sasaran, dan minimnya dukungan kelembagaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemanfaatan media sosial memegang peran penting namun saat ini baru berfungsi sebagai alat bantu komunikasi dasar dan belum terintegrasi utuh untuk mempercepat penyebaran inovasi. Oleh karena itu, diperlukan strategi penyuluhan yang mempertimbangkan peningkatan literasi digital yang komprehensif dan dukungan kelembagaan yang terarah untuk meningkatkan efektivitas transformasi digital penyuluhan pertanian di wilayah kepulauan.

Agricultural extension in island regions faces significant geographical challenges and infrastructural limitations, potentially influencing information dissemination and demanding the utilization of social media as a communication alternative. This study employed a qualitative approach with a case study method, supported by primary data collection through in-depth interviews, observations, and Focus Group Discussions (FGD) involving agricultural extension workers, agency officials, and farmers in Sabu Raijua Regency. The results showed that the digital literacy level of extension agents tended to remain at a basic operational level, not yet reaching the critical evaluation and creative content production stages. The majority of social media utilization, particularly WhatsApp, had a high daily intensity but was mainly limited to a one-way information distribution channel and a tool for fulfilling administrative reporting. Partially, the effectiveness of digital extension was hindered by internal factors, such as the adaptation barriers of senior agents and extrinsic motivation, as well as external factors including limited internet signal infrastructure, low digital literacy among target farmers, and minimal institutional support. This study concluded that social media utilization plays a crucial role but currently functions merely as a basic communication tool and is not yet fully integrated to accelerate the dissemination of innovations. Therefore, an extension strategy that considers comprehensive digital literacy improvement and targeted institutional support is needed to increase the effectiveness of the digital transformation of agricultural extension in island areas.

Kata Kunci : Pemanfaatan media sosial, literasi digital, penyuluhan pertanian, transformasi digital, wilayah kepulauan/ Social media utilization, digital literacy, agricultural extension, digital transformation, island region

  1. S1-2026-497142-abstract.pdf  
  2. S1-2026-497142-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-497142-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-497142-title.pdf