KARAKTERISASI FENOTIPIK DAN GENOTIPIK Staphylococcus aureus YANG DIISOLASI DARI HEWAN KESAYANGAN DAN SUSU SAPI PERAH
Najwa Fayza Az Zahra, Prof. Dr. drh. Siti Isrina Oktavia Salasia
2026 | Skripsi | KEDOKTERAN HEWAN
Staphylococcus aureus merupakan bakteri berbentuk coccus Gram positif dari famili Staphylococcaceae yang bersifat patogen oportunistik dan dapat menyebabkan berbagai infeksi pada hewan kesayangan, ruminansia, serta manusia. Mengingat eratnya interaksi antara manusia dan hewan, identifikasi S. aureus menjadi penting dalam konteks kesehatan hewan, zoonosis, dan One Health. Penelitian ini menggunakan sebanyak 20 sampel dengan tujuan untuk melakukan karakterisasi S. aureus yang diisolasi dari hewan kesayangan dan susu sapi perah berdasarkan pendekatan fenotipik dan genotipik. Identifikasi fenotipik dilakukan melalui pengamatan morfologi koloni, pewarnaan Gram, serta uji biokimia meliputi katalase, koagulase, hemolisis pada media agar darah, dan pertumbuhan pada Mannitol salt agar (MSA). Identifikasi genotipik dilakukan dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk mendeteksi gen spesifik S. aureus, yaitu gen 23SrRNA, nuc, dan coa menggunakan primer spesifik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh isolat merupakan coccus Gram positif, mampu memfermentasi mannitol, dan menghasilkan enzim katalase. Uji koagulase menunjukkan seluruh isolat asal susu sapi perah dan 95% (19 dari 20) isolat hewan kesayangan bersifat positif. Pola hemolisis teridentifikasi pada isolat susu sapi perah terdiri atas 16% (1 dari 6) ?-hemolisis, 66% (4 dari 6) ?-hemolisis, dan 16% (1 dari 6) ?-hemolisis, sedangkan pada isolat asal hewan kesayangan terdiri atas 21% (3 dari 14) ?-hemolisis, 50% (7 dari 14) ?-hemolisis, dan 28% (4 dari 14) ? hemolisis. Analisis genotipik menunjukkan bahwa seluruh isolat positif terhadap gen 23SrRNA dan nuc dengan ukuran amplikon masing-masing 1250 bp dan 279 bp. Sementara itu, gen coa terdeteksi pada 90% (18 dari 20) isolat. Hasil ini menunjukkan adanya variasi karakteristik fenotipik dan genotipik pada isolat S. aureus dari sumber yang berbeda serta menegaskan pentingnya kombinasi pendekatan fenotipik dan molekuler untuk meningkatkan akurasi identifikasi bakteri. Penelitian ini memberikan informasi dasar yang dapat dimanfaatkan dalam mendukung diagnosis, pemilihan terapi yang tepat, dan pengendalian infeksi bakteri dalam bidang kesehatan hewan serta manusia.
Staphylococcus aureus is a Gram-positive coccus bacterium belonging to the family Staphylococcaceae, recognized as an opportunistic pathogen capable of causing a broad spectrum of infections in companion animals, ruminants, and humans. Given the close interrelationship between humans and animals, the identification of S. aureus holds considerable significance in the context of animal health, zoonotic disease transmission, and the One Health framework. This study employed a total of 20 isolates with the objective of characterizing S. aureus isolated from companion animals and dairy cow milk based on phenotypic and genotypic approaches. Phenotypic identification was conducted through colonial morphology observation, Gram staining, and a series of biochemical assays including catalase, coagulase, haemolysis on blood agar medium, and growth on Mannitol salt agar (MSA). Genotypic identification was performed using Polymerase Chain Reaction (PCR) to detect S. aureus-specific genes, namely 23SrRNA, nuc, and coa, utilizing specific primers. The results demonstrated that all isolates were Gram-positive cocci, capable of fermenting mannitol, and produced catalase enzyme. Coagulase testing revealed that all dairy cow milk isolates and 95% (19 of 20) of companion animal isolates were positive. Haemolytic patterns identified among dairy cow milk isolates comprised 16% (1 of 6) ?-haemolysis, 66% (4 of 6) ?-haemolysis, and 16% (1 of 6) ?-haemolysis, whereas companion animal isolates exhibited 21% (3 of 14) ?-haemolysis, 50% (7 of 14) ?-haemolysis, and 28% (4 of 14) ?-haemolysis. Genotypic analysis revealed that all isolates tested positive for the 23SrRNA and nuc genes, yielding amplicon sizes of 1250 bp and 279 bp, respectively. The coa gene was detected in 90% (18 of 20) of the isolates. These findings indicate variability in both phenotypic and genotypic characteristics among S. aureus isolates derived from different sources, and affirm the importance of integrating phenotypic and molecular approaches to enhance the accuracy of bacterial identification. This study provides foundational information applicable to the advancement of diagnostics, appropriate therapeutic selection, and bacterial infection control in the field of veterinary medicine.
Kata Kunci : Fenotipik dan genotipik, hewan kesayangan, PCR, susu sapi perah, Staphylococcus aureus