Analisis Wacana Kritis Strategi Diskursif dalam Wacana Lisan 3 Politikus Perempusn Jepang
Parwati Hadi Noorsanti, Prof. Dr. Wening Udasmoro, M.Hum.,DEA; Dr. Tatang Hariri, M.A.
2026 | Disertasi | S3 Ilmu-ilmu Humaniora
Politikus
merupakan elite symbolic yang
memiliki otoritas untuk mengontrol bahasa yang mereka gunakan dalam praktik
diskursif mereka. Politikus perempuan Jepang selain sebagai elite symbolic juga berada di posisi
subordinat karena kesenjangan gender masih terjadi di dunia politik. Penelitian
ini meneliti strategi diskursif yang digunakan
oleh politikus perempuan Jepang dalam wacana yang berfungsi sebagai
media perlawanan terhadap dominasi kekuasaan patriarkis. Penelitian ini juga
bertujuan untuk mendeskripsikan alasan penggunaan strategi diskursif dan
nilai-nilai dan ideologi yang diperjuangkan oleh politikus perempuan Jepang.
Politikus perempuan Jepang dalam penelitian ini yaitu Koike Yuriko, Noda Seiko,
dan Renho yang dipilih berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Teori dan
metode penelitian yang digunakan analisis wacana kritis model van Dijk. Sumber
data diambil dari interaksi verbal yang terdapat dalam sinsiar dan wawancara
yang diperoleh dari media sosial YouTube dengan
tema peran dan posisi perempuan di Jepang dan tema perempuan dan masyarakat
Jepang pada masa pandemi COVID-19. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa
strategi diskursif yang dominan dilakukan adalah kritikan (blaming) yang ditujukan kepada pemerintah, politikus laki-laki
atau sistem partai politik di Jepang secara umum. Kritikan yang disampaikan ada
yang secara langsung dan tegas dan ada juga kritikan tidak langsung dengan
menggunakan strategi diskursif seperti metafora, ironi, oposisi semantik, dan
membangun kontras. Kritikan Strategi diskursif ini tidak hanya berupaya menampilkan citra
diri positif dan mempersuasi publik, tetapi juga secara fundamental menentang
aturan dan budaya patriarki yang mengakar di Jepang, membuka kesempatan lebih
luas bagi perempuan, serta memperjuangkan perubahan sosial-politik menuju
masyarakat yang lebih inklusif dan setara. Secara ideologis pemikiran para
politikus perempuan Jepang berakar kuat pada feminisme liberal yang bertujuan
mencapai kesetaraan dan keadilan gender dalam struktur masyarakat; dan
feminisme marxis yang bertujuan untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender
di bidang ekonomi dengan mengkritik sistem ekonomi kapitalis Jepang.
Politicians are
symbolic elites who have the authority to control the language they use in
their discursive practices. Japanese female politicians, besides being symbolic
elites, also occupy a subordinate position due to the persistent gender gap in
politics. This study examines the discursive strategies employed by Japanese
female politicians in discourse that serves as a medium of resistance against
patriarchal domination. This study also aims to describe the reasons for using
these discursive strategies and the values ??and ideologies championed by
Japanese female politicians. The Japanese female politicians in this study are
Koike Yuriko, Noda Seiko, and Renho, who were selected based on predetermined
criteria. The theory and research method used is van Dijk's critical discourse
analysis model. Data sources are taken from verbal interactions contained in
podcasts and interviews obtained from the YouTube platform with the theme of
the role and position of women in Japan and the theme of women and Japanese
society during the COVID-19 pandemic. The findings of this study indicate that
the dominant discursive strategy used is criticism (blaming) directed at the
government, male politicians, or the political party system in Japan in
general. The criticisms delivered are both direct and explicit, and indirect,
employing discursive strategies such as metaphor, irony, semantic opposition,
and contrast. These discursive strategies not only seek to project a positive
self-image and persuade the public, but also fundamentally challenge the
patriarchal rules and culture rooted in Japan, open wider opportunities for
women, and advocate for socio-political change toward a more inclusive and
equal society. Ideologically, the thinking of Japanese female politicians is
deeply rooted in liberal feminism, which aims to achieve gender equality and
justice within the societal structure; and Marxist feminism, which aims to
achieve gender equality and justice in the economic sphere by criticizing
Japan's capitalist economic system.
Kata Kunci : analsis wacana kritis, politikus perempuan Jepang, strategi diskursif