An Audience Reception of the 'Ideal Standards' of Male Characteristics in the Romance Manhwa Daytime Star Among Gen Z Readers in Indonesia
Belva Yasyfarras, Dr. Ardian Indro Yuwono, S.IP., M.A.
2026 | Skripsi | Ilmu Komunikasi
Penelitian ini mengkaji resepsi audiens terhadap webtoon Daytime Star dalam kaitannya dengan kemunculan soft masculinity dalam media romansa kontemporer, dengan mengacu pada teori resepsi audiens Sonia Livingstone dan konsep soft masculinity Sun Jung. Dengan menggunakan analisis tematik kualitatif, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana enam informan Indonesia (tiga perempuan, tiga laki-laki) menginterpretasikan sifat-sifat soft masculinity yang dimiliki tokoh utama pria—kematangan emosional, kesetiaan dan integritas, kesuksesan dan kompetensi, serta momjjang body. Temuan menunjukkan bahwa para informan memaknai maskulinitas secara luas, sebagai identitas yang penuh kasih dan interpersonal, alih-alih dominan atau berpusat pada peran sebagai pencari nafkah, serta secara konsisten memandang soft masculinity sebagai ideal yang menarik, meski tidak sepenuhnya tanpa kritik: informan perempuan cenderung memaknai tokoh utama pria sebagai pasangan aspiratif yang menjadi "green flag", sementara informan laki-laki menjadikannya sebagai tolok ukur untuk refleksi diri, dengan kedua kelompok tersebut menimbang ideal fiksi ini terhadap norma hegemonik yang masih bertahan di Indonesia. Penelitian ini berargumen bahwa Daytime Star tidak sekadar dipandang sebagai narasi romantis, melainkan sebagai sumber daya budaya yang mendorong khalayak untuk merefleksikan standar ideal gender dan dinamika relasional, sehingga menjadikan soft masculinity sebagai ideal yang diperdebatkan namun semakin menonjol dalam budaya romansa digital Indonesia.
This study examines audience reception of the webtoon Daytime Star in relation to the rise of soft masculinity in contemporary romance media, drawing on Sonia Livingstone's audience reception theory, and Sun Jung's concept of soft masculinity. Using a qualitative thematic analysis, it explores how six Indonesian informants (three women, three men) interpret the male lead's soft masculine traits–emotional maturity, devotion and integrity, success and competency, and the momjjang body. Findings show informants defining masculinity broadly, as compassionate and interpersonal rather than dominant or provider-centric, and consistently viewing soft masculinity as an appealing ideal, though not uncritically: female informants tend to read the male lead as an aspirational "green flag" partner, while male informants treat him as a benchmark for self-reflection, with both groups weighing the fictional ideal against Indonesia's persistent hegemonic norms. The study contends that Daytime Star is perceived not merely as a romantic narrative, but as a cultural resource that prompts audiences to contemplate gender ideal standards and relational dynamics, rendering soft masculinity a debated yet more prominent ideal in Indonesian digital romance culture.
Kata Kunci : Audience Reception, Romance Manhwa, Soft Masculinity, Daytime Star, Gender Representation, Ideal Standards