Laporkan Masalah

The Difference in Securitising Diabetes : A Comparison between Indonesia and Brazil

Paramasatya Rakha Abiyoga, Arindha Nityasari, S.I.P., MCyberSecAnalysis

2026 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional

Tesis ini mengkaji berbagai strategi yang diterapkan oleh Brasil dan Indonesia antara tahun 2000 dan 2016 untuk menempatkan diabetes sebagai isu keamanan non-tradisional. Kedua negara menunjukan perbedaan signifikan dalam cara diabetes dipandang sebagai ancaman dan ditangani secara politis, meskipun memiliki karakterisik demografis yang serupa, tingkat prevalensi diabetes yang sama-sama meningkat, serta inisiatif yang berjalan bersamaan untuk memperluas cakupan layanan kesehatan semesta. Penelitian ini menggunakan kerangka kerja Keamanan Non-Tradisional (NTS) dari Mely Caballero-Anthony (2106) serta metode penilitian kualitatif berbasis studi pustaka dan analisis komparatif untuk menelaah aktor sekuritiasi, speech act, dan tingkat sekuritiasi di kedua neegara. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemerintah pusat Brasil, di bawah kepimpinan Presiden Lula dan Dilma, menjadi motor penggerak utama proses sekuritisasi diabetes di negara tersebut. Mereka secara konsisten mengaitkan isu diabetes dengan upaya pemberantasan kemiskinan, sebuah narasi yang diperkuat melalui inisiatif seperti Farmacia Popular dan Mais Medicos, serta didukung oleh diplomasi kesehatan internasional yang aktif sehingga menciptakan hubungan timbal balik atnara kebijakan domestik dan pengakuan internasional. Sebaliknya, proses di Indonesia sebagian besar digerakkan oleh aktor tingkat pertama (level 1) dengan keterlibatan pemerintah yang terbatas dan tidak konsisten; hal ini menghasilkan narasi yang terfragmentasi serta proses ekuritiasi yang lebih lambat dan bersifat reaktif, yang puncaknya baru tercapai melalui pembentukan BPJS pada tahun 2014. Perbandingan ini menunjukan bahwa kecepatan dan cakupan sekuritiasi kesehatan sangat ditentukan oleh koherensi dan konsistensi speech act para aktor sekuritiaasi, serta adanya partisipasi timbal balik di tingkat domestik maupun Internasional

This thesis examines the strategies employed by Brazil and Indonesia between 2000 and 2016 to securitize diabetes as a non-traditional security threat. The two nations differed significantly in how diabetes was perceived as a danger and politically addressed, despite having similar demographics, increasing rates of diabetes, and concurrent initiatives to increase universal healthcare coverage. The thesis employed Mely Caballero-Anthony's (2016) Non-Traditional Security (NTS) framework, using qualitative desk research and a comparative difference method to analyse securitising actors, speech acts, and the degree of securitisation in both states. The results demonstrate that the central government of Brazil under Presidents Lula and Dilma spearheaded the country's securitization process. They maintained a consistent speech act linking diabetes to poverty alleviation, which was strengthened by initiatives like Farmácia Popular and Mais Españicos and amplified through active international health diplomacy, creating a feedback loop between domestic policy and international recognition.  Indonesia's process, by contrast, was driven largely by level-1 actors with limited and inconsistent government engagement, resulting in a fragmented narrative and a slower, reactive path toward securitisation, culminating only in the 2014 establishment of BPJS. The comparison shows that the pace and extent of health securitization are determined by the coherence and consistency of the speech acts of securitizing actors as well as reciprocal participation at the domestic and international levels. 


Kata Kunci : Non-Traditional Security, Healthcare, Diabetes, Indonesia, Brazil, Securitization

  1. S1-2026-496116-abstract.pdf  
  2. S1-2026-496116-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-496116-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-496116-title.pdf