A Socio-Cognitive Critical Discourse Analysis of Netflix's Documentary Keep Sweet: Pray and Obey (2022)
Benedicta Angie Azaria Prasetyo Rahayu, Dr. Ni Gusti Ayu Roselani, M.A.
2026 | Skripsi | SASTRA INGGRIS
Penelitian ini mengkaji keyakinan ideologis yang dimanifestasikan dalam wacana naratif penyintas pada dokumenter Netflix Keep Sweet: Pray and Obey (2022). Melalui lensa Analsis Wacana Kritis Sosio-Kognitif milik van Dijk yang didukung oleh analisis linguistik korpus, penelitian ini menerapkan pendekatan interseksional yang memadukan teori pendukung Strategi Manipulatif, Tindak Ilokusional, dan Linguistik Fungsional Sistemik. Pendekatan ini digunakan untuk mengeksplorasi lapisan pola linguistik dalam wacana serta fungsinya sebagai alat membongkar strategi manipulatif yang dilakukan oleh pemimpin sekte untuk menghadirkan dan mempertahankan kekuasaan serta otoritasnya. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa di sepanjang wacana, penggunaan pilihan kata yang terus berulang seperti ‘pure’ (murni), ‘obedient’ (patuh), ‘submit’ (tunduk), ‘Prophet’ (Nabi), dan ‘God’ (Tuhan), secara struktural berfungsi dan diposisikan bersama dengan pronomina penanda kolektivitas sebagai unsur leksikal berbobot yang memperkuat hubungan hierarkis dan menormalisasi kepatuhan. Lebih lanjut, aktivasi pilihan leksikal ini dalam memori jangka panjang dan jangka pendek memicu internalisasi otoritas, membingkai kepatuhan sebagai kewajiban moral sekaligus stau-satunya jalur menuju keselamatan abadi. Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa kelompok berorientasi kontrol tinggi menggunakan kontrol pengikat internal melaluiu keyakinan agama alih-alih menciptakan musuh eksternal untuk memastikan para anggotanya tetap berada dalam jangkauan ideologi mereka. Penelitian ini mendorong integrasi studi Analisis Wacana Kritis Sosio-Kognitif sebagai perangkat instrument bagi masyarakat, pendidik, dan advokat untuk mengenali tanda-tanda peringatan dari adanya doktrinasi psikologis dan kontrol koersif melalui pola tata bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
This study examines the incorporation of ideological beliefs enacted in the survivor’s narrative discourse in Netflix’s documentary Keep Sweet: Pray and Obey (2022). Through the lens of van Dijk’s Socio-Cognitive Critical Discourse Analysis assisted with corpus linguistic analysis, the research implements an intersectional approach combining Manipulative Strategies, Illocutionary Acts, and Systemic Functional Linguistics, to explore the layers of linguistics patterns in the discourse and their functions in uncovering the manipulative strategies done by the cult leader to assert and maintain power and authority. The findings showcase that throughout the discourse, the repeated use of word choices such as ‘pure’, ‘obedient’, ‘submit’, ‘Prophet’, and ‘God’, had structurally functioned and positioned together with collective marking pronouns as weighted lexical items, reinforcing hierarchical relations and normalizing obedience. Further, the activation of these lexical choices within long-term and short-term memory enables the internalization of authority, framing compliance as both moral obligation and the only pathway to salvation. In addition, this research also found that high-control group uses internal binding control through religious beliefs rather than creating and outside opponent to ensure its members remain entrenched in their ideology. This research encourages the incorporation of Socio-Cognitive Critical Discourse Analysis studies as toolkit for public, educators, and advocates to recognize the warning signs of psychological grooming and coercive control through grammatical patterns used in our daily life.
Kata Kunci : Critical Discourse Analysis, cult survivors, documentary socio-cognitive critical discourse analysis, manipulative strategies