Representasi Subaltern dalam Novel Rasina Karya Iksaka Banu
Sugihartini Permana, Prof. Dr. Faruk, S.U.
2026 | Tesis | S2 Sastra
Novel Rasina karya Iksaka Banu adalah novel ketiga yang memiliki banyak ulasan oleh para pembacanya. Terdapat sembilan penelitian yang menggunakan novel Rasina sebagai objek penelitian. Penelitian tersebut umumnya lebih banyak memfokuskan pada apa yang dialami oleh tokoh perempuan berkaitan dengan penindasan dan perlawanan. Novel memiliki dua masa; penduduk Banda dan penduduk Batavia. Namun dari banyak penelitian tersenut terdapat celah yang luput dari para penulis. Dengan begitu Iksaka Banu merepresentasikan pribumi sebagai hasil mendalami sejarah di bawah kendali VOC yang dimungkinkan memiliki bias.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menjelaskan posisi tokoh subaltern dalam novel Rasina. Melalui oposisi-oposisi biner untuk dapat melihat hubungan hierarkis yang memperlihatkan tinggi dan rendah serta dominan dan marjinal. Lalu dilakukan dekonstruksi atas novel untuk melihat kelompok marjinal yang mampu melakukan perlawanan. Tujuan penulisan tersebut dapat terwujud dengan menggunakan teori Subaltern Gayatri Spivak.
Hasil penelitian menunjukkan oposisi biner dalam novel tidak hanya memunculkan pertentangan tetapi juga membentuk hierarkis yang memunculkan posisi utama di dalam novel adalah oposisi penjajah Belanda dan penduduk pribumi Batavia maupun Banda. Oposisi-oposisi tersebut mewujud lebih konkret. Pada akhirnya sosok pribumi menjadi termarjinalkan, terpinggirkan. Namun mereka tidak putus asa dengan melalukan berbagai cara untuk melawan dominasi. Usaha penjungkirbalikkan struktur dominan kemudian menimbulkan pertanyaan namun juga menghasilkan data yang bertentangan dengan pembalikkan hirarki pengarang.
Iksaka Banu's novel Rasina is the third recieve numerous reviews form readers. Nine studies have used Rasina as their object of study. These generally focus on women's experiences related to oppression and resistance. The novels depicts two periods: inhabitiants of Banda and the Habitants of Batavia. However, many of these studies studies have overlooked gaps. Therefore, Iksaka Banu's representation of the indigenous population as a result of his research in studying Indonesian history under VOC control, which may have been biased.
This study aims to identify and explain position of subaltern characters in Rasina. Trough binary opositions, we can discern hierarchical relationship that demosntrate the superior and inferior, the dominant and the marginalized. Then we deconstruct the novel to identify marginalized groups capable of resistance. This objective is achieved using Gayatri Spivaks's subaltern theory.
The results of this study indicate that the binary opposition in the novel not only creates conflict but also forms a hierarchy, thus creating the primary opposition established a clearer position, ultimately marginalizing indigenous figure and marginalizing them. However, they did not give up and took various measures to resist domination. Efforts to overturn this dominant structure raised questions but also produced data that contradicted this long standing hierarical reversal.
Kata Kunci : Representasi, Dekonstruksi, Subaltern, Perbudakan