Laporkan Masalah

NEGOSIASI DAN RESISTANSI IDENTITAS RELIGI PADA PENERJEMAHAN KITAB FIQH AN-NIS?’ F? ?AU’I AL-MA??HIB AL-ARBA‘AH WA AL-IJTIH?D?T AL-FIQHIYYAH AL-MU‘??IRAH DARI BAHASA ARAB KE DALAM BAHASA INDONESIA

Imama Nur Layliyah, Prof. Dr. Drs. Sajarwa, M.Hum.

2026 | Tesis | S2 Linguistik

Kesulitan dalam mengalihbahasakan istilah religi membuat penerjemah dihadapkan pada dua kebutuhan yang sering kali berjalan bersamaan, yaitu mempertahankan konsep keagamaan yang melekat dalam teks sumber sekaligus menyesuaikannya dengan sistem bahasa dan budaya sasaran. Akibatnya, penerjemah perlu melakukan upaya pemertahanan (resistansi) atau membuat kompromi (negosiasi) terhadap identitas religi yang diterjemahkan. Sejalan dengan kondisi tersebut, penelitian ini mengkaji negosiasi dan resistansi identitas religi pada penerjemahan kitab Fiqh an-Nis?’ f? ?au’i al-Ma??hib al-Arba‘ah wa al-Ijtih?d?t al-Fiqhiyyah al-Mu‘??irah dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola negosiasi dan resistansi identitas religi, merumuskan faktor-faktor yang memengaruhi kemunculannya, serta menjelaskan implikasi negosiasi dan resistansi terhadap kesepadanan budaya religi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-komparatif. Data berupa istilah religi yang diperoleh dari teks sumber dan teks sasaran dianalisis berdasarkan aspek bentuk, makna, dan fungsi melalui serangkaian tahapan pengumpulan dan analisis data secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerjemah menerapkan negosiasi sebagian, negosiasi penuh, resistansi sebagian, dan resistansi penuh dalam menerjemahkan istilah religi. Negosiasi cenderung digunakan untuk meningkatkan keterpahaman pembaca sasaran, sedangkan resistansi digunakan untuk mempertahankan konsep fiqih, makna teologis, dan identitas religi. Sebagai implikasi dari proses tersebut, derajat kesepadanan budaya religi ditentukan oleh cara penerjemah mengelola identitas religi melalui pemertahanan sebagian atau semua aspek (bentuk, makna, fungsi). Dengan demikian, kesepadanan total cenderung dihasilkan melalui pemertahanan aspek bentuk, makna, dan fungsi, kesepadanan parsial muncul melalui penyesuaian sebagian aspek, sedangkan ketidaksepadanan terjadi ketika ketiga aspek mengalami perubahan secara bersamaan.

The difficulty of translating religious terms places translators in a situation where they must simultaneously address two interconnected demands: preserving the religious concepts embedded in the source text while adapting them to the linguistic and cultural system of the target language. Consequently, translators often need to either maintain religious identity through resistance or create compromises through negotiation in translating religious identities. In line with this issue, this study examines the negotiation and resistance of religious identity in the translation of Fiqh an-Nis?’ f? ?au’i al-Ma??hib al-Arba‘ah wa al-Ijtih?d?t al-Fiqhiyyah al-Mu‘??irah from Arabic into Indonesian. This study aims to identify the patterns of religious identity negotiation and resistance, formulate the factors influencing their occurrence, and explain their implications for religious cultural equivalence. Employing a qualitative approach with descriptive-comparative methods, this study analyzes religious terms extracted from the source and target texts based on the aspects of form, meaning, and function through systematic stages of data collection and analysis. The findings reveal that translators employ partial negotiation, full negotiation, partial resistance, and full resistance in translating religious terms. Negotiation tends to be applied to enhance readability and comprehensibility for target readers, whereas resistance is employed to preserve fiqh concepts, theological meanings, and religious identity. As an implication of this translation process, the degree of religious cultural equivalence is determined by how translators manage religious identity through preserving some or all aspects (form, meaning, and function). Consequently, total equivalence tends to be achieved through the preservation of form, meaning, and function, partial equivalence emerges through the adjustment of certain aspects, whereas non-equivalence occurs when all three aspects undergo simultaneous changes.

Kata Kunci : Identitas religi, negosiassi, resistansi, kesepadanan budaya religi, penerjemahan.

  1. S2-2026-547325-abstract.pdf  
  2. S2-2026-547325-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-547325-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-547325-title.pdf