Laporkan Masalah

Peran Komoditas Unggulan Nasional dalam Instrumen Desentralisasi Fiskal terhadap Ketimpangan Pendapatan Masyarakat di Daerah Penghasil

Ainaya Taryn Latifa, Dr. R. Y. Kun Haribowo P., S.E., M.Si., GRCP.

2026 | Tugas Akhir | D4 PEMBANGUNAN EKONOMI KEWILAYAHAN

Kelimpahan sumber daya alam di daerah penghasil komoditas unggulan tidak selalu berimplikasi pada pemerataan pendapatan masyarakat, sebagaimana tercermin dalam fenomena resource curse yang kerap terjadi di negara berkembang. Penelitian ini bertujuan (1) menganalisis pengaruh komoditas unggulan minyak dan gas serta kelapa sawit terhadap ketimpangan pendapatan masyarakat di daerah penghasil, dan (2) mengevaluasi peran desentralisasi fiskal dalam hubungan antara kontribusi komoditas unggulan dan penurunan ketimpangan pendapatan masyarakat daerah. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode regresi data panel Random Effect Model (REM) terhadap dua kelompok wilayah, yaitu 5 provinsi penghasil minyak dan gas terbesar (Papua Barat, Kalimantan Timur, Kepulauan Riau, Sulawesi Tengah, dan Jawa Timur) serta 5 provinsi penghasil kelapa sawit terbesar (Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sumatra Utara, dan Sumatra Selatan) selama periode 2017–2024. Variabel dependen adalah Gini Ratio provinsi, sedangkan variabel independen meliputi nilai ekspor migas, volume produksi kelapa sawit, Pendapatan Asli Daerah (PAD), dan Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspor minyak dan gas tidak berpengaruh signifikan terhadap ketimpangan pendapatan di daerah penghasil, baik tanpa maupun dengan kontrol instrumen fiskal. Sebaliknya, produksi kelapa sawit terbukti berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ketimpangan pendapatan, baik secara langsung maupun setelah dikontrol oleh instrumen fiskal. PAD berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ketimpangan hanya di daerah penghasil kelapa sawit, sementara TKDD tidak terbukti berpengaruh signifikan pada kedua kelompok komoditas.

The abundance of natural resources in commodity-producing regions does not necessarily translate into equitable income distribution, as evidenced by the resource curse phenomenon commonly observed in developing countries. This study aims to (1) analyze the effect of leading commodities, oil and gas as well as palm oil, on income inequality in producing regions, and (2) evaluate the role of fiscal decentralization in the relationship between leading commodity contributions and the reduction of regional income inequality. A quantitative approach is employed using panel data regression with the Random Effect Model (REM) across two regional groups: the five largest oil and gas-producing provinces (West Papua, East Kalimantan, Riau Islands, Central Sulawesi, and East Java) and the five largest palm oil-producing provinces (Riau, Central Kalimantan, West Kalimantan, North Sumatra, and South Sumatra) over the period 2017–2024. The dependent variable is the provincial Gini Ratio, while independent variables include oil and gas export value, palm oil production volume, Regional Own-Source Revenue (PAD), and Regional Transfer and Village Funds (TKDD). The results indicate that oil and gas exports do not significantly affect income inequality in producing regions, either with or without fiscal instrument controls. Conversely, palm oil production has a significant negative effect on income inequality, both directly and after controlling for fiscal variables. PAD has a significant negative effect on inequality only in palm oil-producing regions, while TKDD proves insignificant in both commodity groups.

Kata Kunci : komoditas unggulan, minyak dan gas bumi, kelapa sawit, ketimpangan pendapatan, desentralisasi fiskal, Pendapatan Asli Daerah, Transfer ke Daerah dan Dana Desa, data panel, resource curse

  1. D4-2026-504787-abstract.pdf  
  2. D4-2026-504787-bibliography.pdf  
  3. D4-2026-504787-tableofcontent.pdf  
  4. D4-2026-504787-title.pdf