Pola Hubungan Kiai-Santri di Era Digital dan Perilaku Memilih Santri Pada Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2024 (studi Pondok Pesantren Tebuireng)
Mohammad Rayhan Hibatullah, Prof. Dr. Haryanto, M.A.
2026 | Skripsi | ILMU PEMERINTAHAN
Penelitian ini mengkaji pola hubungan kiai–santri di era digital dan pengaruhnya terhadap perilaku memilih santri pada Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2024, dengan studi kasus di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Transformasi digital yang membuka akses informasi secara luas dinilai menggeser otoritas kiai yang sebelumnya bersifat hierarkis dalam menentukan preferensi politik santri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pola hubungan kiai–santri di era digital serta bagaimana perilaku memilih santri di Pondok Pesantren Tebuireng pada Pilpres 2024. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, melalui wawancara mendalam terhadap 14 narasumber yang terdiri atas santri, alumni, dan pengurus Pondok Pesantren Tebuireng. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola hubungan kiai–santri di Tebuireng telah bergeser dari model patronase tradisional menuju relasi yang lebih rasional, dialogis, dan terlembaga, didorong oleh restrukturisasi kelembagaan, budaya anti-pengkultusan yang ditanamkan sejak K.H. Hasyim Asy'ari, serta digitalisasi yang meredefinisi makna ta'dzim dari kepatuhan absolut menjadi penghormatan berbasis kesadaran intelektual. Dalam ranah perilaku memilih, mayoritas narasumber (9 dari 12) menentukan pilihan politiknya melalui pendekatan pilihan rasional, berdasarkan latar belakang, rekam jejak, serta visi-misi kandidat, sementara pendekatan psikologis dan sosiologis relatif tidak dominan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa otoritas kiai di Tebuireng tetap kuat dalam ranah keagamaan dan moral, namun tidak lagi menentukan secara mutlak dalam ranah politik-elektoral, sehingga santri tampil sebagai pemilih yang lebih otonom, kritis, dan reflektif di era digital.
This study examines the pattern of kiai–santri relationships in the digital era and its influence on santri voting behavior in the 2024 Indonesian Presidential Election, using a case study of Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Digital transformation, which broadens access to information, is seen as shifting the previously hierarchical authority of kiai in shaping santri's political preferences. This study aims to identify how the kiai–santri relationship has changed in the digital era and how santri voting behavior manifested in the 2024 election. A qualitative approach with a case study design was employed, involving in-depth interviews with 12 informants consisting of santri, alumni, and administrators of Pondok Pesantren Tebuireng. The findings show that the kiai–santri relationship at Tebuireng has shifted from a traditional patron–client model toward a more rational, dialogical, and institutionalized relationship, driven by institutional restructuring, an anti-personality-cult culture instilled since K.H. Hasyim Asy'ari, and digitalization that has redefined the meaning of ta'dzim from absolute obedience to respect grounded in intellectual awareness. In terms of voting behavior, the majority of informants (9 of 12) determined their political choices through a rational choice approach, based on candidates' background, track record, and vision-mission, while psychological and sociological approaches were relatively less dominant. The study concludes that kiai authority at Tebuireng remains strong in the religious and moral domain, but no longer holds absolute sway in the political-electoral domain, positioning santri as increasingly autonomous, critical, and reflective voters in the digital era.
Kata Kunci : pola hubungan kiai-santri, perilaku memilih, era digital, santri, Pondok Pesantren Tebuireng, Pemilihan Presiden 2024