Aplikasi Variasi Ukuran Serasah Daun Jagung pada Pertanaman Bawang Merah untuk Menekan Perkembangan Penyakit Moler di Lapangan
Muhammad Syafiqul Ulum, Dr. Ir. Arif Wibowo, M.Agr.Sc.
2026 | Skripsi | ILMU HAMA & PENYAKIT TUMBUHAN
Penyakit
moler merupakan salah satu penyakit yang sangat merusak pada pertanaman bawang
merah. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi jamur Fusarium spp..
Pengelolaan dengan menambahkan serasah daun jagung telah dilakukan di lapangan dan mendapatkan hasil bahwa
serasah daun jagung dapat menekan insidensi penyakit moler, namun produksi
bawang merah menurun yang diduga terjadi karena ukuran serasah daun yang
terlalu besar menyebabkan proses dekomposisi lambat, sehingga nutrisi dari
proses dekomposisi tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman dengan segera. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi ukuran serasah daun jagung
terhadap perkembangan penyakit moler dan hasil produksi bawang merah.
Penelitian dilakukan di lapangan menggunakan rancangan acak kelompok lengkap
(RAKL) dengan tiga perlakuan, yaitu serasah daun jagung cacahan kasar (JK),
cacahan halus (JH), dan tanpa serasah (K), masing-masing dengan tiga ulangan. Dalam
penelitian ini juga dilakukan isolasi dan identifikasi patogen penyebab penyakit
moler secara morfologi dan molekuler. Parameter yang diamati meliputi insidensi
penyakit, Area Under Disease Progress Curve (AUDPC), masa inkubasi,
serta hasil produksi berupa berat segar dan kering tajuk, berat segar dan
kering umbi, dan jumlah umbi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa patogen yang
berhasil diidentifikasi adalah Fusarium falciforme, lalu perlakuan
serasah daun jagung cacahan halus dan cacahan kasar tidak memberikan pengaruh
nyata terhadap insidensi penyakit moler, nilai AUDPC, maupun hasil produksi
bawang merah. Kondisi lingkungan berupa curah hujan tinggi selama penelitian
diduga mempercepat penyebaran patogen dan menghambat proses dekomposisi
serasah, sehingga efektivitas pengendalian penyakit tidak optimal.
Twister disease is a highly destructive disease affecting shallot crops. It is
caused by infection with the fungus Fusarium spp. Field-based management using
corn leaf litter has shown that while the litter can suppress the incidence of twister
disease, but shallot yields declined. This is suspected to be due to
excessively large litter particle sizes slowing decomposition, thereby
preventing the plants from immediately utilizing the resulting nutrients. This
study aimed to determine the effect of varying corn leaf litter sizes on twister
disease development and shallot yield. The research was conducted in the field
using a Randomized Complete Block Design (RCBD) with three treatments coarsely
chopped corn leaf litter (JK), finely chopped litter (JH), and no litter (K)
each with three replicates. The study also involved the morphological and
molecular isolation and identification of the pathogen causing the disease.
Observed parameters included disease incidence, the Area Under Disease Progress
Curve (AUDPC), incubation period, and yield components, includes fresh and dry
shoot weight, fresh and dry bulb weight, and number of bulbs. Results
identified the pathogen as Fusarium falciforme. Furthermore, neither the finely
chopped nor the coarsely chopped corn leaf litter treatments had a significant
effect on twister disease incidence, AUDPC values, or shallot
yield. High rainfall during the study period is believed to have accelerated
pathogen spread and inhibited litter decomposition, thereby limiting the
effectiveness of disease control.
Kata Kunci : Penyakit moler, Fusarium falciforme, variasi ukuran serasah daun jagung, bawang merah