PENGEMBANGAN METODE PENENTUAN AMBANG BATAS (THRESHOLD) INTENSITAS-DURASI HUJAN PEMICU KELONGSORAN PADA LERENG TAMBANG TERBUKA MENGGUNAKAN PEMODELAN NUMERIS
Fransiscus Valenfuari Situmorang, Ir. Rozaqqa Noviandi, S.T., M.Agr., Ph.D., IPM.
2026 | Skripsi | TEKNIK SIPIL
Kelongsoran lereng akibat
hujan mengancam keselamatan operasional tambang nikel laterit terbuka di
wilayah tropis Indonesia. Pendekatan peringatan dini saat ini masih bersifat
reaktif karena mendeteksi pergerakan setelah deformasi terjadi. Di sisi lain, kurva
ambang batas hujan empiris global atau regional tidak akurat diterapkan pada
lereng tambang spesifik yang minim data historis longsor. Penelitian ini
bertujuan untuk mengembangkan metode penentuan kurva ambang batas
intensitas-durasi (I-D) hujan secara site-specific tanpa ketergantungan
pada inventarisasi data historis longsor melalui pendekatan pemodelan numeris.
Metode penelitian dilakukan
dengan mengekstraksi empat penampang lereng dari block model Surpac PT.
X, Sulawesi Tenggara. Pemodelan numeris rembesan transien dan stabilitas lereng
disimulasikan menggunakan program SEEP/W dan SLOPE/W berdasarkan parameter
tanah tak jenuh hasil uji laboratorium. Sepuluh skenario intensitas hujan
(10–350 mm/hari) diaplikasikan selama maksimum 90 hari dengan melibatkan
kondisi pre-wetting anteseden sebagai kondisi awal yang realistis.
Lereng 1 dan Lereng 2 gagal
pada kondisi prewetting (FK < 1>back-analysis
primer. Lereng 3 dan Lereng 4 menghasilkan kurva threshold dengan nilai
eksponen ? = 2,832–3,756, jauh lebih besar dari kurva global Caine (1980) ? =
0,39 dan Guzzetti et al. (2008) ? = 0,44, menunjukkan bahwa lereng nikel
laterit ini jauh lebih rentan terhadap akumulasi hujan berdurasi panjang
dibandingkan hujan intensitas tinggi sesaat. Berdasarkan hasil tersebut,
direkomendasikan sistem peringatan dini tiga level berbasis kurva threshold site-specific
yang dapat dioperasikan secara real-time menggunakan data stasiun curah
hujan otomatis.
Rainfall-induced slope instability poses a major threat to the operational safety of open-pit nickel laterite mines in tropical regions of Indonesia. Current early warning approaches remain reactive, as they detect movements only after deformation has occurred. On the other hand, existing global or regional empirical rainfall threshold curves lack the accuracy required for application to specific mine slopes that suffer from a dearth of historical landslide data. This study aims to develop a method for establishing site-specific rainfall intensity-duration (I-D) threshold curves through transient seepage and slope stability numerical modeling, eliminating dependency on historical landslide inventories.
The methodology involved extracting four slope cross-sections from the Surpac block model of PT. X, Southeast Sulawesi. Numerical modeling of transient seepage and slope stability was simulated using SEEP/W and SLOPE/W software, based on unsaturated soil parameters obtained from laboratory testing. Ten rainfall intensity scenarios (10–350 mm/day) were applied over a maximum duration of 90 days, incorporating antecedent pre-wetting conditions to establish a realistic initial state.
The results demonstrated that Slope 1 and Slope 2 failed during the pre-wetting stage (Factor of Safety, FS < 1 xss=removed xss=removed xss=removed>
Slopes 1 and 2 reached failure (FS < 1 xss=removed xss=removed xss=removed>
Kata Kunci : ambang batas hujan, kestabilan lereng, nikel laterit, tanah tak jenuh, sistem peringatan dini, pemodelan numeris