Analisis Kinerja Simpang Bersinyal Sebagai Upaya Pengendalian Beban Emisi (Studi Kasus: Simpang Kronggahan)
Evan Kurniawan, Prof. Ir. Sigit Priyanto, M.Sc., Ph.D., IPM.
2026 | Skripsi | TEKNIK SIPIL
Pembangunan jalan tol Solo – Yogyakarta – NYIA Kulon Progo berdampak pada peningkatan
panjang antrean dan waktu tundaan (stopped delay) Simpang Kronggahan, Sleman. Kondisi ini
memperlama waktu durasi kendaraan dalam kondisi mesin kendaraan menyala (idle), sehingga
berpotensi meningkatkan beban emisi kendaraan dan konsumsi BBM. Penelitian ini bertujuan
menganalisis kinerja simpang, mengestimasi besaran beban emisi kendaraan eksisting, serta
mengevaluasi skenario penanganan alternatif sebagai upaya mengendalikan beban emisi hingga
proyeksi tahun 2042.
Pemodelan dan analisis lalu lintas dilakukan secara mikroskopis menggunakan perangkat lunak
PTV VISSIM dengan memasukkan data sekunder geometri jalan, volume, kecepatan, dan
waktu siklus persimpangan. Pemodelan tersebut kemudian dikalibrasi dan validasi
menggunakan uji GEH dan MAPE. Estimasi konsumsi bahan bakar pada fase idle, fase
akselerasi/deselerasi, dan fase cruise dihitung merujuk pada LAPI ITB (1997). Hasil
perhitungan volume bahan bakar kemudian dikonversi menjadi estimasi beban emisi polutan
lokal menggunakan metode EMEP/EEA, serta gas rumah kaca menggunakan metode IPCC.
Pemodelan ini dievaluasi pada tiga kondisi, yaitu kondisi tanpa penanganan (Do Nothing),
alternatif skenario 1 (penyesuaian waktu siklus PKJI 2023), dan alternatif skenario 2 (penerapan
idling stop dengan variasi tingkat kepatuhan pengendara 10%, 20%, dan 30%).
Hasil simulasi kondisi Do Nothing pada tahun 2042 mencatatkan panjang antrean mencapai
912,85 meter dan waktu tundaan (stopped delay) mencapai 330,65 detik. Kondisi ini
menghasilkan beban emisi CO? di angka 1278,36 kg/jam dengan konsumsi BBM mencapai
3147,68 liter/jam. Penerapan alternatif skenario 1 berupa penyesuaian waktu siklus belum
mampu memberikan penurunan beban emisi secara keseluruhan akibat tingginya durasi
kendaraan tertahan pada fase idle. Sebagai upaya untuk menekan tingginya emisi pada fase idle,
alternatif skenario 2 melaui penerapan idling stop mencatatkan angka penurunan polusi..
Berdasarkan alternatif skenario 2C dengan tingkat kepatuhan 30%, dapat diperoleh persentase
penurunan emisi polutan CO (8,46%), HC (15,61%), NOx (3,40%), PM10 (16,78%), SO?
(2,42%), CO? (6,66%), dan konsumsi BBM sebesar 6,74% dibandingkan dengan kondisi Do
Nothing pada tahun 2042.
The construction of the Solo–Yogyakarta–NYIA Kulon Progo toll road has led to longer traffic
queues and increased stopped delay at the Kronggahan Intersection in Sleman. This situation
prolongs the time vehicles spend idling, which has the potential to increase vehicle emissions
and fuel consumption. This study aims to analyze the intersection’s performance, estimate the
magnitude of existing vehicle emissions, and evaluate alternative management scenarios as
efforts to control emissions through the year 2042.
Traffic modeling and analysis were conducted using microscopic simulation with PTV VISSIM
software, incorporating secondary data on road geometry, traffic volume, speed, and
intersection cycle times. The model was then calibrated and validated using the GEH and
MAPE tests. Estimates of fuel consumption during the idle phase, acceleration/deceleration
phase, and cruise phase were calculated based on LAPI ITB (1997). The calculated fuel volume
was then converted into estimates of local pollutant emissions using the EMEP/EEA method,
and greenhouse gas emissions using the IPCC method. This model was evaluated under three
conditions: the “Do Nothing” scenario, Alternative Scenario 1 (adjustment of the 2023 PKJI
cycle time), and Alternative Scenario 2 (implementation of an idling stop policy with varying
driver compliance rates of 10%, 20%, and 30%).
Simulation results for the “Do Nothing” scenario in 2042 showed a queue length of 912.85
meters and a stopped delay of 330.65 seconds. These conditions resulted in a CO? emission
load of 1,278.36 kg/hour with fuel consumption reaching 3,147.68 liters/hour. The
implementation of Alternative Scenario 1, which involves adjusting the cycle time, has not yet
been able to reduce overall emissions due to the long duration vehicles spend in the idle phase.
As an effort to reduce high emissions during the idle phase, Alternative Scenario 2—through
the implementation of an idling stop system—has resulted in a reduction in pollution levels.
Based on Alternative Scenario 2C with a 30% compliance rate, the following percentage
reductions in pollutant emissions can be achieved: CO (8.46%), HC (15.61%), NOx (3.40%),
PM10 (16.78%), SO? (2.42%), CO? (6.66%), and a 6.74% reduction in fuel consumption
compared to the “Do Nothing” scenario in 2042.
Kata Kunci : Simpang Bersinyal, Beban Emisi, PTV VISSIM, Konsumsi BBM, Idling Stop