Laporkan Masalah

Evaluasi Program Bantuan Kesejahteraan Sosial Fakir Miskin (BKS-FM) Tahun 2003 di Kota Jayapura

GAOL, Washington Lumban, Dr. Nasikun

2005 | Tesis | Magister Administrasi Publik

Masalah Kemiskinan menjadi masalah nasional dan disepakati bahwa penyebab kemiskinan tersebut diantaranya; pendidikan rendah, kurangnya modal, ketrampilan, akses, pendapatan dan produktivitas rendah dan ciri lain yang serba kekurangan. Bila diurutkan akan memberntuk suatu lingkaran yang sering disebut dengan “lingkaran kemiskinan”. Departemen Sosial mendesain program untuk mengatasi kemiskinan dimaksud dengan “Program Bantuan Kesejahteraan Sosial Fakir Miskin (BKS-FM)”. Inti dari program ini adalah memberikan bantuan usaha dalam bentuk kelompok (kube). Provinsi Papua sebagai salah satu wilayah program BKS-FM 2003 dilaksanakan, memperoleh alokasi biaya yang sangat besar. Untuk memahami keberhasilan program BKS-FM tersebut secara keseluruhan dapat dilihat melalui dua sisi; pertama adalah keberhasilan program ditingkat birokrasi yaitu cakupan program (coverage program) yang bisa dilihat melalui recruiting target, coverage and bias dan coverage efficiency, kemudian ketepatan peran/fungsi birokrasi dalam memainkan perannya mulai dari perencanan, pelakasanaan dan monitoring/evaluasi. Kedua adalah keberhasilan program pada tingkat kube (target group) dapat dilihat melalui manajeman usaha yang dilakukan oleh target group dan ketepatan jenis usaha yang mereka terima dengan keinginan yang dimiliki. Penelitian ini secara metodologis menggunakan; pertama, pengumpulan data dilakukan dengan instrumen penelitian, indeepth interview dan studi dokumentasi. Kedua pengolahan data dilakukan dengan mengaplikasikaan model triangulasi. Ketiga penyajian analisis dan interpretasi data dalam bentuk deskriptis analitis dan narasi analitis. Tentu untuk mencapai keberhasilan program tersebut dipengaruhi oleh faktor dari dua sisi; pertama faktor di tingkat birokrasi yang dapat dilihat melalui faktor sosialisai program terhadap fakir miskin, pendampingan yang diberikan dalam pengawalan program serta monitoring/evaluasi untuk memahami kelemahan dan kekuatan program. Kedua faktor di tingkat (kube) yang dapat dipahami melaui koordinasi anggota dalam melaksnakan usaha dan faktor dinamika kelompok dalam mengembangkan kelompok. Dari seluruh uraian tersebut ditemukan bahwa program tidak sepenuhnya berjalan dengan baik, alasan yang sangat mendasar adalah ketidaktepatan birokrasi dalam memerankan program, mulai dari perencanaan yang tidak baik, berakibat terhadap pelaksanaan yang tidak baik sehingga hasil di target group akan tidak baik. Oleh karena itu kesimpulan dari pelaksanan progam BKS-FM ini adalah tidak mencapai hasil sebagaimana yang diinginkan. Inti dari seluruh keberhasilan program diawali dari birokrasi, oleh karena itu kepatuhan birokrasi untuk memainkan peran/fungsinya mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi sangat mutlak dilakukan dalam mencapai keberhasilan program. Pengembangan jaringan mitra kerja program BKS-FM .

Poverty has become national matter. It is agreed that the triggers of poverty are many factors such as low education, lack of capital, less skill, access, income, lack of productivity and many others. These factors are oftenly made a cycle which is called poverty cycle. Social department has designed a program to overcome the poverty which is called Aid Program for Social Prosperity of Destitue People. The main idea of this program is to offer assistance of social aid in groups. Papua province as one of the program target has accepted much fund of this program. To evaluate and understand the succes of the entire program, it can be viewed from two sides. First, program success is viewed through recruiting target, coverage and bias and coverage efficiency, and then the appropriateness of beurocracy roles and functions in this program from planning, implementation and evaluation. Second, The program success is viewed through target group. It can be analyzed from business management which is run by target group and the the appropriateness of business field they accepted with their interests. This research was done by using method as follow: first, collecting data was carrying out by using reseach instruments, indepth interview, and documentation study. Second, analyzing data was carried out by applying triangulation model. Third, analysis and data interpretation was presented descriptively. The success of the program is influenced by two factors; first, beurocracy level which can be seen from program socialization to the destitute people, guidance given during the program, and monitoring to understand the weaknesses and the strength of the program. Second, target group level which can be understood through partisipants coordination in carrying out the business and groups dynamic in developin the group. Based on the research, it was found that the program was not fully running well. It was caused by ineffeciency beurocracy in running the program, like bad planning which caused bad implementation on the field. Hence, it was concluded that the implementation of the Aid Program for Social Prosperity of Destitue People could not gain result as it was designed. The core of the entire program is begun from beurocracy. Hence, beurocracy obedience to run their role or their function from planning, implementation, and evaluation is absolute in gaining the program’s success.

Kata Kunci : Program Pemerintah,Kemiskinan,Bantuan Kesejahteraan, Poverty, poverty program, program evaluation


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.