Laporkan Masalah

Membaca Ulang Identitas dan Religiusitas Mahasiswa Minangkabau di Perantauan Yogyakarta

Oci Saputri, Dr. Hakimul Ikhwan, S.Sos., M.A.

2026 | Skripsi | Sosiologi

Mahasiswa Minangkabau yang merantau ke Yogyakarta menghadapi dinamika sosial yang berbeda dengan lingkungan budaya asalnya. Tradisi Minangkabau yang berlandaskan falsafah adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah menempatkan adat dan agama sebagai pedoman utama dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, kehidupan di kota perantauan yang lebih terbuka menghadirkan pengalaman baru yang mendorong mahasiswa untuk menegosiasikan kembali identitas budaya dan religiusitas mereka. Perjumpaan dengan modernitas, kebebasan dalam pergaulan, serta perubahan pola kehidupan menjadi tantangan dalam mempertahankan identitas sebagai orang Minangkabau di perantauan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk menggali pengalaman mahasiswa Minangkabau di Yogyakarta dalam memaknai dinamika identitas dan religiusitas. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap lima informan yang telah merantau dan tinggal di Yogyakarta minimal selama satu tahun, dengan latar belakang yang beragam. Analisis dilakukan menggunakan perspektif modernitas cair dari Zygmunt Bauman untuk memahami konteks sosial yang melingkupi pengalaman informan, serta Teori Negosiasi Identitas untuk menganalisis proses pembentukan dan pemaknaan identitas dalam interaksi sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa Minangkabau di Yogyakarta mengalami proses negosiasi identitas yang kompleks antara nilai budaya asal dan realitas sosial di perantauan. Modernitas membuka ruang pergaulan yang lebih beragam dan menghadirkan pengalaman baru yang mendorong munculnya refleksi diri, terutama berkaitan dengan praktik religiusitas dan norma sosial. Dalam situasi tersebut, informan menunjukkan variasi respons, mulai dari mempertahankan nilai-nilai religius secara konsisten, melakukan penyesuaian dalam pergaulan, hingga membentuk identitas yang lebih fleksibel sesuai dengan konteks sosial yang dihadapi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa modernitas tidak menghilangkan identitas budaya dan religiusitas mahasiswa Minangkabau, melainkan mendorong terjadinya proses negosiasi dan pemaknaan ulang terhadap keduanya. Meskipun demikian, tidak semua informan bergerak menuju identitas yang lebih fleksibel karena sebagian tetap mempertahankan nilai adat dan religiusitas secara kuat. Dengan demikian, identitas dan religiusitas mahasiswa Minangkabau di perantauan bersifat dinamis, beragam, dan terus dibentuk melalui interaksi sosial dalam konteks modernitas yang cair.

This study examines the dynamics of identity and religiosity among Minangkabau students who migrate to Yogyakarta. The values of adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah that they carry from their homeland encounter a more open and modern urban reality, prompting them to renegotiate their cultural and religious identity. Using a qualitative method with a phenomenological approach, this research involved five Minangkabau student informants who had lived in Yogyakarta for at least one year. Data were analyzed using Zygmunt Bauman's concept of liquid modernity to understand the social context they face, along with Identity Negotiation Theory to examine how identity is constructed and negotiated through social interaction. The findings show that Minangkabau students experience a process of identity negotiation between their inherited cultural values and the social realities of the migration setting. Modernity opens up more diverse social spaces and encourages self-reflection, particularly regarding religious practices and social norms. In response, informants display varied strategies: some firmly maintain their religious and customary values, while others adapt to new patterns of interaction, developing more flexible identities. These findings affirm that modernity does not necessarily erode the cultural identity and religiosity of Minangkabau students; rather, it drives an ongoing process of negotiation and reinterpretation. Thus, the identity and religiosity of Minangkabau students in the context of migration are dynamic, diverse, and continuously shaped through social interaction amid the conditions of liquid modernity.

Kata Kunci : identitas, religiusitas, mahasiswa Minangkabau, modernitas cair, perantauan.

  1. S1-2026-496752-abstract.pdf  
  2. S1-2026-496752-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-496752-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-496752-title.pdf