Perbandingan Konfigurasi Struktural Gedung Modular Dua Lantai pada Daerah dengan Zona Gempa Rendah dan Zona Gempa Tinggi
Haniifah Rahmadhania Multivana, Angga Fajar Setiawan, S.T., M.Eng., Ph.D.
2026 | Skripsi | TEKNIK SIPIL
Pembangunan gedung mes mahasiswa dibangun dibeberapa wilayah
Indonesia dalam upaya program transmigrasi pemerintah dengan memanfaatkan
sistem pembangunan modular non-volumetrik. Gedung mes dirancang dengan menggunakan sistem ganda
antara lain Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) dan Sistem Rangka dengan
Bresing Konsentris Khusus (SRBKK). Pembangunan gedung ini direncanakan oleh
pemerintah untuk dibangun di beberapa wilayah sehingga perlu memperhatikan zona
gempa atau kriteria desain seismik yang ada di Indonesia. Oleh sebab itu, digunakan desain gedung modular berbasis metode Offsite
Construction (OSC) untuk menjaga konsistensi mutu bangunan di berbagai
daerah dengan tingkat kerawanan gempa yang berbeda.
Penelitian ini dilakukan dengan
merancang dua gedung dengan denah dan bentang yang sama untuk mengetahui
bagaimana perbedaan gaya gempa memengaruhi kebutuhan dan kinerja struktur
gedung modular. Analisis dilakukan dengan melakukan perbandingan struktural
gedung mes yang dibangun di Kota Batam sebagai daerah dengan zona gempa rendah
(KDS A) dan Kota Mamuju sebagai daerah dengan zona gempa tinggi (KDS E). Parameter
yang dievaluasi meliputi bentuk ragam, partisipasi massa, simpangan
antarlantai, pengaruh P-delta, syarat lendutan maksimum, frekuensi lantai untuk
keamanan pengguna, dan perbandingan berat struktural dari gedung mes di Kota
Batam dan Kota Mamuju. Dalam melakukan analisis struktur dengan
mempertimbangkan respon gempa lokasi pembangunan, kajian dilakukan secara matrik
numerik dengan memodelkan struktur melalui portal tiga dimensi berdasarkaan
acuan SNI 1726:2019, SNI 7860:2020 dan SNI 1727:2020.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa gedung mes modular
dua lantai pada Kota Batam dan Kota Mamuju memiliki kinerja struktur yang
memenuhi ketentuan SNI 1726:2019.
Berdasarkan perbedaan komponen struktural, dilakukan efisiensi material yang
membuat model gedung di Kota Batam memiliki berat struktur sebesar 99,28
ton, berat ini lebih ringan dibandingkan model di Kota Mamuju yang
memiliki berat sebesar 110,57 ton. Selisih berat
struktur dari gedung mes di Kota Batam dan Kota Mamuju sebesar 11,29 Ton.
The
construction of a student dormitory building as part of the government's
transmigration program is designed using a non-volumetric
modular construction system. The building employs a dual
structural system consisting of a Special Moment Resisting
Frame (SMRF) and a Special
Concentrically Braced Frame (SCBF). Since the government
plans to construct this building in various regions across Indonesia, seismic
zoning and seismic design criteria must be taken into consideration. Therefore,
the implementation of a modular building design utilizing the Offsite
Construction (OSC) method is essential to ensure consistent
construction quality in regions with different seismic hazard levels.
This
study was conducted by designing two building models with identical floor plans
and spans to investigate how differences in seismic loading influence the
structural requirements and performance of modular buildings. A comparative
structural analysis was carried out on student dormitory buildings located in
Batam City, representing a low seismic region (Seismic Design Category A), and
Mamuju City, representing a high seismic region (Seismic Design Category E).
The evaluated parameters included mode shapes, mass participation ratios,
inter-story drift, P-Delta effects, maximum deflection limits, floor vibration
frequency for occupant safety, and the structural weight of each building
model. To evaluate the structural response under site-specific seismic
conditions, numerical matrix analysis was performed using a three-dimensional
frame model in accordance with the provisions of SNI 1726:2019, SNI 7860:2020,
and SNI 1727:2020.
The results
indicate that the two-story modular student dormitory buildings designed for
Batam and Mamuju satisfy the structural performance requirements specified in SNI
1726:2019. Due to differences in the structural
components required for each seismic design category, material optimization
resulted in the Batam model having a structural weight of 99,28
tons, which is
lighter than the Mamuju model at 110,57
tons. The difference
in structural weight between the two building models is 11,29
tons.
Kata Kunci : modular non-volumetrik, zona gempa rendah, zona gempa tinggi, SRPMK, SRBKK, modular non-volumetric, low seismic zone, high seismic zone, SMRF, SCBF