UPAYA PEMULIHAN CITRA AGENSI JOHNNY & ASSOCIATES PASCA SKANDAL PELECEHAN SEKSUAL
Vanessa Maria Tama Br. Sianturi, Dr. ?Yayan Suyana, S.S., M.A.
2026 | Skripsi | SASTRA JEPANG
Penelitian ini menganalisis strategi yang digunakan agensi Johnny & Associates dalam merespons tuduhan pelecehan seksual yang dilakukan oleh Johnny Kitagawa kepada idol dari agensi Johnny & Associates dan Johnny’s Jr. semasa hidupnya dengan menggunakan teori Image Repair oleh William L. Benoit dan dikaitkan dengan konsep budaya sekentei. Fokus utama dalam penelitian menjelaskan dampak yang terjadi setelah ramainya tuduhan pelecehan di publik, respons agensi yang dapat dibagi menjadi dua periode, dan strategi-strategi yang digunakan agensi dalam memulihkan citra. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan metode studi dokumentasi dan analisis isi terhadap data yang diperoleh dari berbagai sumber daring.
Hasil penelitian menunjukkan adanya respons penyangkalan atau simple denial yang dilakukan oleh Johnny Kitagawa semasa hidupnya. Perbedaan respons terjadi setelah Johnny Kitagawa meninggal dan agensi dipimpin oleh Julie Keiko Fujishima. Respons agensi awalnya mengelak atau menggunakan strategi evasion of responsibility mengenai tuduhan pelecehan seksual oleh Johnny Kitagawa, hingga akhirnya agensi mengakui pelecehan seksual benar terjadi dan menggunakan strategi mortification sebagai permintaan maaf. Secara keseluruhan, agensi Johnny & Associates menggunakan seluruh strategi yang terdapat dalam teori Image Repair, mulai dari strategi denial (penyangkalan), evasion of responsibility (penghindaran tanggung jawab), reducing offensiveness (mengurangi kesan buruk), corrective action (tindakan korektif), dan mortification (permintaan maaf).
This study analyzes the strategies employed by the talent agency Johnny & Associates in responding to allegations of sexual abuse committed by Johnny Kitagawa against idols from Johnny & Associates and Johnny's Jr. during his lifetime, drawing on William L. Benoit's Image Repair Theory, in relation to the concept of Japanese cultural value of sekentei. The analysis centers on the impact following the public surfacing of these allegations, the agency's responses across two distinct periods, and the strategies employed in restoring its public image. A qualitative approach is applied through documentary study and content analysis of data gathered from various online sources.
The findings indicate that Johnny Kitagawa himself relied on simple denial throughout his lifetime, while the agency's response shifted considerably following his death, under the leadership of Julie Keiko Fujishima. Initially, the agency adopted an evasion of responsibility strategy concerning the allegations, before ultimately acknowledging that the abuse had indeed occurred and turning to mortification as a form of apology. Overall, Johnny & Associates employed the full range of strategies outlined in Image Repair Theory, encompassing denial, evasion of responsibility, reducing offensiveness, corrective action, and mortification
Kata Kunci : Pemulihan Citra, Johnny & Associates, Pelecehan Seksual