Laporkan Masalah

A Semiotic Analysis of Male Gaze in the Film Jakarta VS Everybody

Kinanti Soesanto, Mashita Phitaloka Fandia Purwaningtyas, S.I.P., M.A.

2026 | Skripsi | Ilmu Komunikasi

Penelitian ini menganalisis bagaimana male gaze dikonstruksi dan diperkuat melalui tanda-tanda narasi visual dalam film Indonesia Jakarta VS Everybody (2020), dengan menggunakan kerangka semiotika Roland Barthes yang meliputi denotasi, konotasi, dan mitos sebagai alat analisis utama, serta dipandu oleh teori male gaze Laura Mulvey. Perempuan dalam sinema Indonesia, baik tradisional maupun modern, kerap direpresentasikan sebagai sosok yang emosional, pasif, dan berada di bawah subordinasi laki-laki, yang mencerminkan ideologi patriarki yang masih membentuk representasi karakter perempuan di layar. Penelitian ini mengkaji tiga belas adegan terpilih dari film tersebut melalui pendekatan kualitatif dengan menerapkan metode analisis semiotika dua tataran Barthes untuk menginterpretasikan unsur-unsur visual dan naratif pada setiap adegan. Hasil penelitian menunjukkan tiga kategori utama yang secara berulang menjadi cara kerja male gaze dalam film, yaitu adegan seksual dan voyeuristik, adegan domestik dan intim, serta adegan penelantaran dan isolasi. Melalui ketiga kategori tersebut, penelitian ini menyimpulkan bahwa male gaze dalam Jakarta VS Everybody tidak terbatas pada konten yang secara eksplisit bersifat seksual, melainkan tertanam dalam seluruh lapisan visual dan naratif film, menyamarkan dirinya sebagai romansa dan domestisitas, sembari secara konsisten menempatkan karakter perempuan sebagai objek kenikmatan visual serta elemen pendukung yang dapat dikorbankan dalam alur naratif protagonis laki-laki. Penelitian ini berkontribusi pada berkembangnya kajian mengenai representasi gender dalam sinema Asia Tenggara dengan menunjukkan bahwa male gaze dalam film Indonesia kontemporer berfungsi sebagai suatu struktur visual dan naratif yang menyeluruh, bukan sekadar pilihan sinematik yang berdiri sendiri.

This research analyzed how the male gaze was constructed and reinforced through the visual narrative signs in the Indonesian film Jakarta VS Everybody (2020), using Roland Barthes's semiotic framework of denotation, connotation, and myth as the primary analytical tool, guided by Laura Mulvey's male gaze theory. Women in both traditional and modern Indonesian cinema are often portrayed as emotional, passive, and subordinate to male characters, reflecting the patriarchal ideology that continues to shape how female characters are represented on screen. This research examined thirteen selected scenes from the film through a qualitative approach, applying Barthes's two-order semiotic framework analysis method to interpret the visual and narrative elements of each scene. The findings revealed three recurring categories through which the male gaze operates in the film: sexual and voyeuristic scenes, domestic and intimate scenes, and abandonment and isolation. Through these three categories, the research concluded that the male gaze in Jakarta VS Everybody is not confined to overtly sexual content, but is embedded across all registers of the film, disguising itself as romance and domesticity while consistently positioning the female character as an object of visual pleasure and a disposable supporting piece in the male protagonist's narrative arc. This research contributed to the growing discourse on gender representation in Southeast Asian cinema by demonstrating that the male gaze in contemporary Indonesian film functions as a comprehensive visual and narrative structure rather than an isolated cinematic choice.

Kata Kunci : Male gaze, semiotic analysis, Indonesian cinema, representation of women

  1. S1-2026-496681-abstract.pdf  
  2. S1-2026-496681-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-496681-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-496681-title.pdf