CONSTRUCTING “KAMPUNG RUSIA” (2022-2025): A CRITICAL DISCOURSE AND AGENDA-SETTING ANALYSIS OF TIKTOK REPRESENTATIONS OF RUSSIAN TOURISTS IN BALI
William Wallace Honadi, Prof. Dr. Ana Nadhya Abrar, M.E.S.
2026 | Skripsi | Ilmu Komunikasi
Istilah “Kampung Rusia” menjadi label yang diperdebatkan dalam wacana publik digital di Bali. Penelitian ini menganalisis bagaimana TikTok membentuk identitas turis Rusia melalui wacana tersebut, serta isu dan atribut apa saja yang paling banyak ditonjolkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma kritis. Kerangka analisis yang digunakan adalah Analisis Wacana Kritis Fairclough, teori agenda-setting, dan teori kritis media sosial dari Fuchs.
Data utama penelitian terdiri atas tujuh konten TikTok yang didukung oleh dokumen kontekstual untuk memperkuat validitas data. Analisis dilakukan melalui tahap deskripsi, interpretasi, dan eksplanasi. Selanjutnya, data dikaji berdasarkan penonjolan isu, penonjolan atribut, hubungan antara isu, visibilitas platform, dan respons audiens yang terlihat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa “Kampung Rusia” bukan istilah geografis resmi. Istilah ini berkembang sebagai label ruang berbasis kebangsaan yang dikaitkan dengan eksklusivitas, gangguan sosial, kontrol asing, dan regulasi. Wacana TikTok membentuk citra turis Rusia melalui proses klasifikasi, spasialisasi, moralisasi, institusionalisasi, dan amplifikasi di platform tersebut. Isu yang paling menonjol adalah konsentrasi ruang, gangguan terhadap masyarakat lokal, serta penegakan aturan. Ruang yang diasosiasikan dengan Rusia umumnya digambarkan sebagai eksklusif, mengganggu, berbahaya, dominan, dan tidak patuh.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa kreator dan akun pada platform tertentu membentuk agenda media digital yang menonjol. Namun, respons audiens hanya menunjukkan paparan dan interaksi, bukan persetujuan atau perubahan sikap publik secara langsung.
The phrase “Kampung Rusia” has become a contested label in Bali’s digital public discourse. This study examines how TikTok constructs the identities of Russian tourists through this discourse and identifies the issues and attributes that receive the greatest emphasis. The research applies a qualitative critical paradigm and combines Fairclough’s Critical Discourse Analysis with agenda-setting theory and Fuchs’s critical theory of social media. The primary corpus consists of seven TikTok items supported by contextual documents used for chronological and factual triangulation. The analysis follows Fairclough’s stages of description, interpretation, and explanation, and is then coded for issue salience, attribute salience, networks of association, platform visibility, and visible audience response. The findings show that “Kampung Rusia” is not an official geographical designation. It developed as a nationality-based spatial label associated with exclusivity, disturbance, foreign control, and regulation. The discourse constructs Russian tourists through classification, spatialisation, moralisation, institutionalisation, and platform amplification. Spatial concentration, local disturbance, and enforcement receive the strongest issue salience, while Russian-associated spaces are predominantly described as exclusive, disruptive, dangerous, dominant, and noncompliant. A weaker counter-frame presents these spaces as tourism and business environments. Bold overlays, reposts, search prompts, and engagement systems enhance the label's visibility and repeatability. However, engagement indicates exposure and interaction, not agreement. The study concludes that selected creators and platform accounts formed a salient digital media agenda without demonstrating a representative public agenda or direct effects on audience attitudes.
Kata Kunci : Agenda-setting; Bali; Critical discourse analysis; Kampung Rusia; TikTok