Modal Sosial Kelompok Masyarakat Tirto Mulyo dalam Pengelolaan Petak 167 Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus Untuk Pendidikan dan Pelatihan Universitas Gadjah Mada Blora-Ngawi
Galih Candra Kumala, Dr. Ir. Tri Atmojo, S.Hut., M.T.
2026 | Skripsi | KEHUTANAN
Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus untuk Pendidikan dan Pelatihan Universitas Gadjah Mada Blora-Ngawi (KHDTK UGM) menempatkan Kelompok Masyarakat (Pokmas) Tirto Mulyo sebagai mitra pengelolaan hutan berbasis
komunitas dalam pemanfaatan lahan garapan (andil) dan embung Watu Macan di Petak 167. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi modal sosial eksisting Pokmas Tirto Mulyo dalam pengelolaan KHDTK UGM dan merumuskan strategi
penguatannya.
Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan explanatory sequential design. Tahap kuantitatif menggunakan survei kuesioner Likert lima tingkat terhadap 53 anggota aktif untuk mengukur dimensi kepercayaan, jaringan
sosial, dan norma, dianalisis dengan statistik deskriptif. Hasilnya didalami melalui analisis (strengths) dan kelemahan (weaknesses), serta dikombinasikan dengan indikator lingkungan eksternal kelompok berupa peluang (opportunities) dan
ancaman (threats) yang dikonfirmasi melalui Focus Group Discussion bersama anggota kelompok.
Hasil menunjukkan profil modal sosial yang tidak merata. Dimensi kepercayaan menjadi kekuatan utama dengan mean mayoritas di atas 4,00, mencerminkan kepercayaan institusional yang kuat terhadap UGM. Jaringan sosial bersifat "kuat ke dalam, lemah ke luar" (mean 3,32-4,06), dengan keterbatasan bridging social capital sebagai hambatan pemasaran utama. Norma menghadapi dilema harmoni-penegakan aturan (mean 3,09-4,20) akibat budaya ewuh pakewuh.
Strategi yang dirumuskan meliputi kemitraan dan digitalisasi pemasaran, penguatan norma berbasis sanksi kolektif, patroli gotong royong, serta koperasi dengan skema modal bergulir untuk memutus ketergantungan pada tengkulak.
Universitas Gadjah Mada Special Purpose Forest Area (KHDTK) for Education and Training in Blora-Ngawi positions the Tirto Mulyo Community Group (Pokmas) as a partner in community-based forest management, utilizing cultivated land (andil) and the Watu Macan retention basin in Plot 167. This study analyzes Pokmas Tirto Mulyo's existing social capital in managing the UGM KHDTK and formulates strengthening strategies.
The study used a mixed-methods approach with an explanatory sequential design. The quantitative phase surveyed all 53 active members (census sampling) using a five-point Likert questionnaire measuring trust, social networks, and
norms, analyzed with descriptive statistics. Findings were then deepened through strengths, weaknesses, opportunities, and threats (SWOT) analysis confirmed by a Focus Group Discussion (FGD) with group members.
Results show an uneven social capital profile. Trust is the main strength, with a majority mean above 4.00, reflecting strong institutional trust in UGM. Social networks are "inwardly strong, outwardly weak" (mean 3.32-4.06), with limited
bridging social capital as the key marketing barrier. Norms face a harmony-versus enforcement dilemma (mean 3.09-4.20) due to the ewuh pakewuh culture. Recommended strategies include marketing partnerships and digitalization, collective-sanction-based norm strengthening, community patrols, and a cooperative with a revolving capital scheme to reduce dependency on middlemen.
Kata Kunci : Modal Sosial, KHDTK UGM, Kelompok Masyarakat Tirto Mulyo, Megeri, Strategi ; Social Capital, KHDTK UGM, Tirto Mulyo Community Group, Megeri, Strategy