Konflik Batin Tokoh Minato dalam Proses Penerimaan Identitas Seksualnya pada Film Monster Karya Hirokazu Koreeda: Kajian Psikoanalisis Sigmund Freud
Barra Taura Nursa'id, Drs. Deddy Hernandy Oekon, M.Hum.
2026 | Skripsi | SASTRA JEPANG
Film Monster karya Hirokazu Koreeda mengisahkan tokoh Minato, seorang anak laki-laki yang mengalami kebingungan terhadap perasaannya sendiri di tengah tekanan sosial yang dipengaruhi stigma, heteronormativitas, dan tuntutan maskulinitas. Konflik tersebut berkembang melalui hubungannya dengan teman sekelasnya, Yori, dan memengaruhi cara Minato dalam memahami perasaan dan identitas dirinya. Penelitian ini bertujuan menganalisis tema dan fakta cerita, dinamika konflik batin, faktor penyebab, bentuk kecemasan, serta mekanisme pertahanan diri yang dialami Minato dengan menggunakan teori tema dan fakta cerita Robert Stanton, pendekatan psikologi sastra dan teori psikoanalisis Sigmund Freud. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik simak dan catat terhadap dialog dan adegan dalam film sebagai data penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tema mayor film Monster adalah proses penerimaan identitas seksual seorang anak di tengah tekanan sosial yang didukung oleh tema minor berupa perundungan dan tekanan sosial, serta prasangka, kesalahpahaman, dan perbedaan perspektif. Fakta cerita dalam film Monster, yang terdiri dari atas tokoh, alur, dan latar turut memperlihatkan perkembangan konflik batin Minato yang menjadi dasar analisis psikologis tokoh. Konflik batin Minato berkembang melalui pertentangan struktur kepribadian antara id, ego, dan superego yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Konflik tersebut memunculkan kecemasan realitas, neurotik, dan moral yang mendorong munculnya mekanisme pertahanan diri berupa reaksi formasi, agresi, regresi, pengalihan, dan fantasi. Konflik batin Minato berkembang dari ketakutan terhadap penolakan sosial dan kebingungan terhadap identitas dirinya hingga mencapai penerimaan terhadap identitas seksual serta perasaannya terhadap Yori. Dengan demikian, film Monster merepresentasikan proses penerimaan identitas seksual seorang anak di tengah tekanan sosial yang membentuk konflik batinnya.
Hirokazu Koreeda’s film Monster tells the
story of the character Minato, a young boy who experiences confusion about his
own feelings amid social pressures shaped by stigma, heteronormativity, and
expectations of masculinity. This conflict develops through his relationship
with his classmate, Yori, and influences the way Minato understands his
feelings and identity. This study aims to analyze the theme and story facts,
the dynamics of Minato’s inner conflict, its causal factors, forms of anxiety,
and defense mechanisms by applying Robert Stanton’s theory of theme and story
facts, a literary psychology approach, and Sigmund Freud’s psychoanalytic
theory. This study employs a qualitative descriptive method using observation
and note-taking techniques on dialogues and scenes in the film as the research
data.
The findings reveal that the major theme
of Monster is a child’s process of accepting his sexual identity amid social
pressure, supported by minor themes of bullying, social pressure, prejudice,
misunderstanding, and differing perspectives. The story facts in Monster,
consisting of characters, plot, and setting, also illustrate the development of
Minato’s inner conflict and provide the basis for the psychological analysis of
the character. Minato’s inner conflict develops through the interaction among the
personality structures of the id, ego, and superego, which are influenced by
both internal and external factors. This conflict gives rise to reality
anxiety, neurotic anxiety, and moral anxiety, leading to the emergence of
defense mechanisms in the forms of reaction formation, aggression, regression,
displacement, and fantasy. Minato’s inner conflict develops from fear of social
rejection and confusion about his identity to the acceptance of both his sexual
identity and his feelings for Yori. Therefore, Monster represents a child’s
process of accepting his sexual identity amid social pressures that shape his
inner conflict.
Kata Kunci : konflik batin, psikoanalisis, kecemasan, mekanisme pertahanan diri, identitas seksual, Monster