Merawat Hidup di Ambang Kerentanan: Studi Fenomenologi atas Pengalaman Buruh Tani Perempuan Dusun Katar dalam Struktur Kerja yang Bias Gender
Elisa Putri Natalia, Evi Lina Sutrisno, S.Psi., M.A., Ph.D.
2026 | Skripsi | ILMU PEMERINTAHAN
Penelitian ini mengungkap pengalaman hidup buruh tani perempuan yang tinggal di Dusun Katar, Desa Ngimbang, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Wilayah yang termasuk dalam kawasan agraris, kaya akan sumber daya, serta memiliki keunggulan di sektor pertanian realitasnya tidak benar benar menjamin kesejahteraan masyarakat, terutama bagi mereka yang berprofesi sebagai buruh tani perempuan. Kontribusi buruh tani perempuan yang cukup besar dalam kemajuan pertanian di Dusun Katar seolah hanya dianggap sebagai “bayang bayang” dan tidak diperlakukan secara setara dengan buruh tani laki-laki. Dengan demikian, studi ini berupaya untuk menggali perspektif dari buruh tani perempuan terkait kerentanan yang mereka alami.
Penelitian ini mengadopsi jenis metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang melibatkan 7 (tujuh) orang informan dari kalangan buruh tani perempuan. Adapun proses pengambilan data dilakukan melalui wawancara secara mendalam (in-depth interview) dan studi pustaka menggunakan data sekunder. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan tiga teori, yakni gendered organizations theory milik Joan Acker, precarious work oleh Kalleberg & Vallas, serta intersectionality oleh Kimberle Crenshaw.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa para buruh tani perempuan mengalami kerentanan dan diskriminasi gender. Bentuk-bentuk kerentanan yang dialami meliputi rendahnya upah, jam kerja yang tidak menentu, beban kerja yang tidak sesuai, hingga ketiadaan jaminan sosial. Lebih lanjut, buruh tani perempuan juga mengalami diskriminasi gender, baik dari pemberi kerja, pemerintah setempat, hingga sistem kerja yang cukup bias. Realitas ini tentunya semakin memarginalkan posisi buruh tani perempuan dalam berbagai aspek kehidupan. Hal tersebut pada akhirnya mendorong mereka untuk menyusun berbagai strategi adaptasi guna bertahan di tengah kerentanan yang menimpa.
This research explores the lived experiences of female agricultural laborers residing in Dusun Katar, Ngimbang, Lamongan Regency, East Java. Although this region is part of an agrarian area rich in resources and known for its agricultural advantages, this reality does not necessarily guarantee the welfare of its people, particulary those working as female agricultural laborers. The substantial contribution of female agricultural laborers to agricultural progress in Dusun Katar appears to be regarded merely as a "shadow", receiving unequal treatment compared to male agricultural laborers. Accordingly, this study seeks to explore the perspectives of female agricultural laborers regarding the vulnerabilities the experience.
This research adopts a qualitative method with a phenomenological approach, involving seven (7) informants from among female agricultural laborers. Data collection was conducted through in-depth interviews and literature review using secondary data. The collected data were then analyzed using three theoretical frameworks: Joan Acker's gendered organizations theory, Kalleberg and Vallas's precarious work theory, and Kimberlé Crenshaw's intersectionality theory.
The findings reveal that female agricultural laborers experience vulnerability and gender discrimination. The forms of vulnerability experienced include low wages, irregular working hours, disproportionate workloads, and the absence of social security. Furthermore, female agricultural laborers also face gender dicrimination from employers, local government, and a work system that remains considerably biased. This reality further marginalizes the position of female agricultural laborers in various aspect of life, ultimately compelling them to devise various adaptive strategies to survive amid the vulnerabilities they face.
Kata Kunci : Buruh tani perempuan, kerentanan, diskriminasi gender