Resistansi Dan Negosiasi Identitas Religi Dalam Penerjemahan Surat Al-Baqarah Bahasa Jepang
Asma Haniza, Drs. Tatang Hariri, M.A., Ph.D.
2026 | Tesis | S2 Linguistik
Penerjemah
akan dihadapkan dengan tantangan-tantangan dalam penerjemahan istilah-istilah
agama yang spesifik. Hal ini disebabkan karena dalam teks keagamaan mengandung
makna teologis yang mendalam. Sejalan dengan fakta tersebut, maka penelitian
ini membahas aspek sikap penerjemah dalam penerjemahan secara resistansi dan
negosiasi dalam surat Al-Baqarah bahasa Jepang.
Penelitian
ini bertujuan untuk merumuskan dan menjelaskan pola, faktor kemunculan, dan
implikasi pada penerjemahan secara resistansi maupun negosiasi. Data Penelitian
ini berupa frasa atau kata yang bermuatan religi dalam surat Al-Baqarah ayat
1-286 berserta versi terjemahannya dalam bahasa Jepang yang diterjemahkan oleh
Saeed Sato pada tahun 2009. Klasifikasi istilah religi berdasarkan taksonomi
dari teori Alghamdi, Yulianita, dan Mujazin. Data yang terkumpul akan
dianalisis menggunakan metode kualitatif dan interpretatif.
Hasil
dari penelitian ini adalah bahwa idetintas religi dalam penerjemahan surat
Al-Baqarah bahasa Jepang lebih banyak mengalami negosiasi dibandingkan
resistansi. Istilah yang paling banyak mengalami negosiasi adalah kategori
konsep religi, eskatologi religi, dan kriteria moral dan etika. Hal ini muncul
karena dipengaruhi oleh perbedaan sistem keagamaan, mementingkan keberterimaan
dan keterbacaan pembaca. Sehingga istilah tersebut disesuaikan dengan budaya
religi pembaca sasaran, meski cenderung mengalami distorsi makna. Sedangkan
istilah yang dipertahankan atau resistansi adalah istilah yang memiliki muatan
teologis yang tinggi dan tidak dapat dipadankan seperti pemilik religi, tokoh
religi, dan aktivitas religi khusus. Selai itu, resistansi berimplikasi pada
kesepadanan penuh dan menjaga makna teologis maupun historis. Dalam ranah
negosiasi berimplikasi pada kesepadanan sebagian dan keberterimaan teks.
Translators encounter significant challenges when dealing with
specific religious terminology, primarily due to the profound theological
meanings embedded within sacred texts. Accordingly, this study examines the
translator's stance regarding resistance and negotiation strategies concerning
religious identity in the Japanese translation of Surah Al-Baqarah.
This research aims to formulate and elucidate the patterns,
contributing factors, and implications of both resistant and negotiatory
translation approaches. The data comprise religious phrases and words
identified in Surah Al-Baqarah (verses 1–286) and their corresponding Japanese
translations rendered by Saeed Sato in 2009. Religious terms are classified
based on the taxonomies proposed by Alghamdi, Yulianita, and Mujazin. The
collected data were analyzed using qualitative and interpretive methods.
The findings reveal that religious identity in the Japanese
translation of Surah Al-Baqarah undergoes negotiation more frequently than
resistance. The categories most subject to negotiation include religious
concepts, eschatology, and moral-ethical criteria. This phenomenon is driven by
divergent religious systems and a prioritization of target reader acceptability
and readability; consequently, these terms are adapted to the target audience's
religious culture, albeit at the risk of semantic distortion. Conversely,
resistance is maintained for terms with high theological significance that lack
direct equivalents, such as religious entities, figures, and specific ritual
activities. Furthermore, resistance results in full equivalence while
preserving theological and historical nuances, whereas negotiation leads to
partial equivalence and enhanced textual acceptability.
Kata Kunci : Resistansi, Negosiasi, Identitas Religi, Penerjemahan, Surat Al-Baqarah